GERMAN INVESTORS PLANNING 70 MW WASTE TO ENERGY PLANT IN NAIROBI, KENYA

GERMAN INVESTORS PLANNING 70 MW WASTE TO ENERGY PLANT IN NAIROBI, KENYA

10 June 2014
German Investors Planning 70 MW Waste to Energy Plant in Nairobi, Kenya

German Ambassador Andreas Peschke and Frank D. Masuhr, managing partner of Sustainable Energy Management UG – Twitter

A proposal to build a 70 MW waste to energy plant in Nairobi has been welcomed by the Kenyan President, Uhuru Kenyatta.

According to information on the President’s website, during a meeting at State House, German investors led by Frank Masuhr, managing partner at Sustainable Energy Management Company UG, it was disclosed that the company intends to set up a $400 million waste to energy plant.

There is little information available on Berlin based Sustainable Energy Management Company UG (SMC).

However, according to the President’s office a director of German government-owned development bank, KFW, Haje Schutte said that the project will be expedited to ensure private sector partners with government in energy generation.

In an earlier statement on the project dating back to August last year, the Indo-African Chamber of Commerce & Industries said that the planned facility will consist of three large plants – a waste sorting plant, a synthesis gas plant and a power generator plant – and will require 12.36 acres of land with proper road access and connection to the national grid.

It was claimed that the facility, which is to be located at the Dandora dumpsite, will create a total of 1000 direct and indirect jobs.

The President said that the Kenyan government encouraged the private sector participation to boost the country’s electrical generation capacity.

He added that the project will process 2000 tonnes of waste per day and generate 70 MW of power to the national grid.

To expedite the project Kenyatta asked government officials to avoid unnecessary bureaucracy, saying it undermined economic growth and asked them to ensure the government’s agenda of wooing more investors is not bogged down by avoidable procedures.

“We have to ensure that we do away with unnecessary bureaucracy. It does not benefit anybody,” said that President.

http://www.waste-management-world.com/articles/2014/06/german-investors-planning-70-mw-waste-to-energy-plant-in-nairobi-kenya.html

Gadis Indo Jelita Si Pemulung Sampah

Gadis Indo Jelita Si Pemulung Sampah

TEMPO.CO, Jakarta – Jari lentik gadis berdarah Inggris-Jawa itu sibuk membereskan botol air mineral yang terserak di pelataran Galeri Hadiprana di Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu, 13 Januari 2015. Angela Jelita Richardson, nama si gadis, punya kesan buruk terhadap sampah botol mineral di jalanan.

download

Angela Jelita Richardson
Saat menggelar Clean Up Jakarta Day beberapa bulan lalu, ia banyak menemukan botol air mineral yang berisi air kencing yang dibuang sembarangan. Padahal daerah yang dibersihkannya adalah kawasan Sudirman-Thamrin, daerah elite. “Itu terjadi karena tidak tersedianya toilet umum di jalan. Biasanya lelaki melakukan kebiasaan ini. Mereka pee(kencing) di dalam botol air mineral, lalu membuangnya sembarang,” ujar Angela.

Bagi perempuan kelahiran London 32 tahun silam itu, sampah tidak harus dipandang sebagai benda yang menjijikkan. Menurut dia, perilaku orang dalam memperlakukan sampah harus dibenahi. Dia menyatakan sering melihat warga Jakarta yang bermobil melempar sampahnya begitu saja ke jalan. “Mereka seharusnya memikirkan bagaimana dampak selanjutnya, seperti penyakit yang dapat ditimbulkan dari sampah itu,” katanya.

Angel lantas memikirkan cara menyadarkan masyarakat sekaligus membersihkan Jakarta. Maka terciptalah Clean Up Day Jakarta, gerakan gotong royong membersihkan sampah di Jakarta, yang sudah berlangsung dua tahun berturut-turut sejak 2013.

Dia mulai menyebarkan gagasannya melalui media sosial, jaringan pertemanan antar-sesama ekspatriat, hingga menemui orang dari pintu ke pintu.

Melalui tempat kerjanya, majalah Indonesia Expat, Angela kemudian mengajak ribuan ekspatriat dan bahkan beberapa pucuk pimpinan perusahaan asing untuk turun ke jalan membersihkan sampah dan memberi dukungan dana. Dia juga melibatkan sejumlah komunitas bersih-bersih di Jakarta dalam kegiatan Clean Up Jakarta Day, seperti Bersih Nyok dan Komunitas Ciliwung. Walhasil, dalam Clean Up Jakarta Day pertama pada Oktober 2013, sekitar 5.000 relawan bergotong royong membersihkan Jakarta dan pada Oktober tahun lalu jumlah sama juga tercapai.

CHETA NILAWATY

sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/01/19/219635836/Gadis-Indo-Jelita-Si-Pemulung-Sampah

Sumber, Karakteristik, dan Timbulan Sampah

Sumber, Karakteristik, dan Timbulan Sampah

Sumber dan Timbulan Sampah

Biasanya sumber sampah dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:

  1. Sampah dari permukiman, atau sampah rumah tangga
  2. Sampah dari non-permukiman yang sejenis sampah rumah tangga, seperti dari pasar, komersial dsb.

Sampah dari kedua jenis sumber tersebut dikenal sebagai sampah domestik. Sedangsampah non-domestik adalah sampah atau limbah yang bukan sejenis sampah rumah tangga, misalnya limbah dari proses industri. Bila sampah domestik ini berasal dari lingkungan perkotaan, dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai municipal solid waste (MSW).

Dalam pengelolaan persampahan di Indonesia, sampah kota biasanya dibagi berdasarkan sumbernya, seperti sampah dari:

  • Permukiman atau rumah tangga dan sejenisnya
  • Pasar
  • Kegiatan komersial seperti pertokoan
  • Kegiatan perkantoran: mayoritas berisi sampah kegiatan perkantoran seperti kertas Hotel dan restoran
  • Kegiatan dari institusi seperti industri, rumah sakit, khusus untuk sampah yang sejenis dengan sampah permukiman
  • Penyapuan jalan
  • Taman-taman.

Kadang dimasukkan pula sampah dari sungai atau drainase air hujan, yang banyak dijumpai. Sampah dari masing-masing sumber tersebut mempunyai karakteristik yang khas sesuai dengan besaran dan variasi aktivitasnya. Timbulan (generation) sampah masing-masing sumber tersebut bervariasi satu dengan yang lain.

Data mengenai timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah merupakan hal yang sangat menunjang dalam menyusun sistem pengelolaan persampahan di suatu wilayah. Jumlah timbulan sampah ini biasanya akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan seperti:

  • Pemilihan peralatan, misalnya wadah, alat
  • pengumpulan, dan pengangkutan
  • Perencanaan rute pengangkutan
  • Fasilitas untuk daur ulang Luas dan jenis TPA.

Bagi negara berkembang dan beriklim tropis seperti Indonesia, faktor musim sangat besar pengaruhnya terhadap berat sampah. Dalam hal ini, musim yang dimaksud adalah musim hujan dan kemarau, tetapi dapat juga berarti musim buah-buahan tertentu. Di samping itu, berat sampah juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya lainnya. Oleh karenanya, sebaiknya evaluasi timbulan sampah dilakukan beberapa kali dalam satu tahun. Timbulan sampah dapat diperoleh dengan sampling (estimasi) berdasarkan standar yang sudah tersedia.

Timbulan sampah bisa dinyatakan dengan satuan volume atau satuan berat. Jika digunakan satuan volume, derajat pewadahan (densitas sampah) harus dicantumkan. Oleh karena itu, lebih baik digunakan satuan berat karena ketelitiannya lebih tinggi dan tidak perlu memperhatikan derajat pemadatan.Timbulan sampah ini dinyatakan sebagai:

  • Satuan berat: kg/o/hari, kg/m2/hari, kg/bed/hari, dan sebagainya
  • Satuan volume: L/o/hari, L/m2/hari, L/bed/hari, dan sebagainya.

Di Indonesia umumnya menerapkan satuan volume. Penggunaan satuan volume dapat menimbulkan kesalahan dalam interpretasi karena terdapat faktor kompaksi yang harus diperhitungkan. Sebagai ilustrasi, 10 unit wadah yang berisi air masing-masing 100 liter, bila air tersebut disatukan dalam wadah yang besar, maka akan tetap berisi 1000 liter air. Namun 10 unit wadah yang berisi sampah 100 liter, bila sampah tersebut disatukan dalam sebuah wadah, maka volume sampah akan berkurang karena mengalami kompaksi. Berat sampah akan tetap. Terdapat faktor kompaksi yaitu densitas.

Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun di masa mendatang merupakan dasar dari perencanaan, perancangan, dan pengkajian sistem pengelolaan persampahan. Prakiraan timbulan sampah akan merupakan langkah awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan persampahan. Bagi kota-kota di negara berkembang, dalam hal mengkaji besaran timbulan sampah, perlu diperhitungkan adanya faktor pendaurulangan sampah mulai dari sumbernya sampai di TPA.

Tabel Besarnya Timbulan Sampah Berdasarkan Sumbernya

Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari, antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan antara satu negara dengan negara lainnya. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan, antara lain:

  • Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya
  • Tingkat hidup: makin tinggi tingkat hidup masyarakat, makin besar timbulan sampahnya
  • Musim: di negara Barat, timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas
  • Cara hidup dan mobilitas penduduk
  • Iklim: di negara Barat, debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin
  • Cara penanganan makanannya.

Beberapa studi memberikan angka timbulan sampah kota di Indonesia berkisar antara 2-3 liter/orang/hari dengan densitas 200-300 kg/m3 dan komposisi sampah organik 70-80%.

Menurut SNI 19 -3964 -1994, bila pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung besaran sistem, dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut:

  • Satuan timbulan sampah kota besar = 2– 2,5 L/orang/hari, atau = 0,4 – 0,5 kg/orang/hari
  • Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil = 1,5 – 2 L/orang/hari, atau = 0,3 – 0,4 kg/orang/hari

Karena timbulan sampah dari sebuah kota sebagian besar berasal dari rumah tangga, maka untuk perhitungan secara cepat satuan timbulan sampah tersebut dapat dianggap sudah meliputi sampah yang ditimbulkan oleh setiap orang dalam berbagai kegiatan dan berbagai lokasi, baik saat di rumah, jalan, pasar, hotel, taman, kantor dsb. Namun tambah besar sebuah kota, maka tambah mengecil porsi sampah dari permukiman, dan tambah membesar porsi sampah non-permukiman, sehingga asumsi tersebut di atas perlupenyesuaian, seperti contoh di bawah ini.

Contoh :

Jumlah penduduk sebuah kota = 1 juta orang. Bila satuan timbulan sampah = 2,5 L/orang/hari atau 0,5 kg/orang/hari, maka jumlah sampah dari permukiman adalah = (2,5×1.000.000/1000) m3/hari = 2500 m3/hari atau setara dengan 500 ton/hari. Bila jumlah sampah dari sektor non-permukiman dianggap = 1250 m3/hari, atau setara dengan 250 ton/hari, maka total sampah yang dihasilkan dari kota tersebut = 4000 m 3/hari, atau = 750 ton/hari. Bila dikonversi terhadap total penduduk, maka kota tersebut dapat dinyatakan menghasilkan timbulan sampah sebesar (4000 m3/hari : 1 juta orang) atau = 4 L/orang/hari, yang merupakan satuan timbulan ekivalensi penduduk.

Komposisi Sampah

Pengelompokan berikutnya yang juga sering dilakukan adalah berdasarkan komposisinya, misalnya dinyatakan sebagai % berat (biasanya berat basah) atau % volume (basah) dari kertas, kayu, kulit, karet, plastik, logam, kaca, kain, makanan, dan lain-lain. Komposisi dan sifat -sifat sampah menggambarkan keanekaragaman aktivitas manusia.

Berdasarkan sifat-sifat biologis dan kimianya, sampah dapat digolongkan sebagai berikut:

  • Sampah yang dapat membusuk (garbage), seperti sisa makanan, daun, sampah kebun, sampah pasar, sampah pertanian, dan lain-lain
  • Sampah yang tidak membusuk (refuse), seperti plastik, kertas, karet, gelas, logam, kaca, dan sebagainya
  • Sampah yang berupa debu dan abu

Sampah yang mengandung zat-zat kimia atau zat fisis yang berbahaya. Disamping berasal dari industri atau pabrik-pabrik, sampah jenis ini banyak pula dihasilkan dari kegiatan kota termasuk dari rumah tangga.

Tabel Timbulan Buangan Padat Domestik Kota Bandung, 1994

Tabel Timbulan Sampah di Beberapa Negara

Tabel Timbulan Sampah di Beberapa Kota di Indonesia

Tabel Timbulan Sampah di Jawa Tengah Berdasarkan Income

Tabel Komposisi Sampah Domestik

Tabel Komposisi Sampah di Beberapa Kota (% Berat Basah)

Pengertian sampah organik lebih bersifat untuk mempermudah pengertian umum, untuk menggambarkan komponen sampah yang cepat terdegradasi (cepat membusuk), terutama yang berasal dari sisa makanan. Sampah yang membusuk ( garbage ) adalah sampah yang dengan mudah terdekomposisi karena aktivitas mikroorganisme. Dengan demikian pengelolaannya menghendaki kecepatan, baik dalam pengumpulan, pemerosesan, maupun pengangkutannya. Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan yang berbau tidak enak, seperti ammoniak dan asam-as m volatil lainnya. Selain itu, dihasilkan pula gas-gas hasil dekomposisi, seperti gas metan dan sejenisnya, yang dapat membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik. Penumpukan sampah yang cepat membusuk perlu dihindari. Sampah kelompok ini kadang dikenal sebagai sampah basah, atau juga dikenal sebagai sampah organik. Kelompok inilah yang berpotensi untuk diproses dengan bantuan mikroorganisme, misalnya dalam pengomposan atau gasifikasi, atau cara-cara lain seperti sebagai pakan ternak.

Sampah yang tidak membusuk atau refuse pada umumnya terdiri atas bahan-bahan kertas, logam, plastik, gelas, kaca, dan lain-lain. Refuse sebaiknya didaur ulang, apabila tidak maka diperlukan proses lain untuk memusnahkannya, seperti pembakaran. Namun pembakaran refuse ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut, dan berpotensi sebagai sumber pencemaran udara yang bermasalah, khususnya bila mengandung plastik. Kelompok sampah ini dikenal pula sebagai sampah kering, atau sering pula disebut sebagai sampah anorganik.

Di negara beriklim dingin, sampah berupa debu dan abu banyak dihasilkan sebagai produk hasil pembakaran, baik pembakaran bahan bakar untuk pemanas ruangan, maupun abu hasil pembakaran sampah dari insinerator. Abu debu di negara tropis seperti Indonesia, banyak berasal dari penyapuan jalan-jalan umum. Selama tidak mengandung zat beracun, abu tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat. Namun, abu yang berukuran <10 µm dapat memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan penyakit pneumoconiosis.

Sampah berbahaya adalah semua sampah yang mengandung bahan beracun bagi manusia, flora, dan fauna. Sampah ini pada umumnya terdiri atas zat kimia organik maupun anorganik serta logam – log a m berat, yang kebanyakan merupakan buangan industri. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu badan yang berwenang dan dikeluarkan ke lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sampah jenis ini tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa.

Komposisi sampah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  • Cuaca: di daerah yang kandungan airnya tinggi, kelembaban sampah juga akan cukup tinggi
  • Frekuensi pengumpulan: semakin sering sampah dikumpulkan maka semakin tinggi tumpukan sampah terbentuk. Tetapi sampah organik akan berkurang karena membusuk, dan yang akan terus bertambah adalah kertas dan dan sampah kering lainnya yang sulit terdegradasi
  • Musim: jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedang berlangsung
  • Tingkat sosial ekonomi: Daerah ekonomi tinggi pada umumnya menghasilkan sampah yang terdiri atas bahan kaleng, kertas, dsb
  • Pendapatan per kapita: Masyarakat dari tingkat ekonomi lemah akan menghasilkan total sampah yang lebih sedikit dan homogen
  • Kemasan produk: kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan mempengaruhi. Negara maju seperti Amer ika tambah banyak yang menggunakan kertas sebagai pengemas, sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak menggunakan plastik sebagai pengemas.

Dengan mengetahui komposisi sampah dapat ditentukan cara pengolahan yang tepat dan yang paling efisien sehingga dapat diterapkan proses pengolahannya. Tambah sederhana pola hidup masyarakatnya, tambah banyak komponen sampah organik (sisa makanan, dsb). Suatu penelitian (1989) yang dilakukan di beberapa kota di Jawa Barat menggambarkan hal tersebut dalam skala kota. Tambah besar dan beraneka ragam aktivitas sebuah kota, maka tambah kecil proporsi sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, yang umumnya didominasi sampah organik. Pemukiman merupakan sumber sampah terbesar dengan komposisi sampah basah atau sampah organik sebesar 73-78%. Dengan kondisi seperti itu disertai kelembaban sampah yang tinggi, maka sampah akan sangat cepat membusuk.

Tabel Tipikal Komposisi Sampah Pemukiman (% berat basah)

Tabel Tendensi Komposisi Sampah di Jawa Barat (%berat basah)

Tabel Komposisi Sampah Kota Bandung Berdasarkan Sumber (% Berat Basah) 1988

Tabel Karakteristik Sampah kota Bandung 1988

Karakteristik Sampah

Selain komposisi, maka karakteristik lain yang biasa ditampilkan dalam penanganan sampah adalah karakteritik fisika dan kimia. Karakteristik tersebut sangat bervariasi, tergantung pada komponen-komponen sampah. Kekhasan sampah dari berbagai tempat/daerah serta jenisnya yang berbeda-beda memungkinkan sifat-sifat yang berbeda pula. Sampah kota di negara-negara yang sedang berkembang akan berbeda susunannya dengan sampah kota di negara-negara maju.

Karakteristik sampah dapat dikelompokkan menurut sifat-sifatnya, seperti:

  • Karakteristik fisika: yang paling penting adalah densitas, kadar air, kadar volatil, kadar abu, nilai kalor, distribusi ukuran.
  • Karakteristik kimia: khususnya yang menggambarkan susunan kimia sampah tersebut yang terdiri dari unsur C, N, O, P, H, S, dsb.

Menurut pengamatan di lapangan, maka densitas sampah akan tergantung pada sarana pengumpul dan pengangkut yang digunakan, biasanya untuk kebutuhan desain digunakan angka:

  • Sampah di wadah sampah rumah: 0,01 – 0,20 ton/m3
  • Sampah di gerobak sampah: 0,20 – 0,35 ton/m3
  • Sampah di truk terbuka: 0,25 – 0,40 ton/m 3
  • Sampah di TPA dengan pemadaran konvensional = 0,50 – 0,60 ton/m3 .

Informasi mengenai komposisi sampah diperlukan untuk memilih dan menentukan cara pengoperasian setiap peralatan dan fasilitas-fasilitas lainnya dan untuk memperkirakan kelayakan pemanfaatan kembali sumberdaya dan energi dalam sampah, serta untuk perencanaan fasilitas pemerosesan akhir.

Metode Pengukuran

Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh dengan survey pengukuran atau analisa langsung di lapangan, yaitu:

  1. Mengukur langsung satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel (rumah tangga dan non­rumah tanga) yang ditentukan secara random­proporsional di sumber selama 8 hari berturut- tu rut (SNI 19-3964-1995 dan SNI M 36-1991- 03 )
  2. Load-count analysis: mengukur jumlah (berat dan/atau volume) sampah yang masuk ke TPS, misalnya diangkut dengan gerobak, selama 8 hari berturut-turut. Dengan melacak jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh gerobak yang mengumpulkan sampah tersebut, akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekivalensi penduduk
  3. Weigh-volume analysis: bila tersedia jembatan timbang, maka jumlah sampah yang masuk ke fasilitas penerima sampah akan dapat diketahui dengan mudah dari waktu ke waktu. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung dengan perkiraan area yang layanan, dimana data penduduk dan sarana umum terlayani dapat dicari, maka akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekuivalensi penduduk
  4. Material balance analysis: merupakan analisa yang lebih mendasar, dengan menganalisa secara cermat aliran bahan masuk, aliran bahan yang hilang dalam system, dan aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang ditentukan batas-batasnya (system boundary)

Dalam survey, frekuensi pengambilan sampel sebaiknya dilakukan selama 8 (delapan) hari berturut-turut guna menggambarkan fluktuasi harian yang ada. Dilanjutkan dengan kegiatan bulanan guna menggambarkan fluktuasi dalam satu tahun. Penerapan yang dilaksanakan di Indonesia biasanya telah disederhanakan, seperti:

  • Hanya dilakukan 1 hari saja
  • Dilakukan dalam seminggu, tetapi pengambilan sampel setiap 2 atau 3 hari
  • Dilakukan dalam 8 hari berturut-turut.

Metode yang umum digunakan untuk menentukan kuantitas total sampah yang akan dikumpulkan dan dibuang adalah sebagai berikut:

  • Rata-rata angkutan per hari dikalikan volume rata-rata pengangkutan dan dikonversikan ke satuan berat dengan menggunakan densitas
  • rata-rata yang diperoleh melalui sampling Mengukur berat sampel di dalam kendaraan angkut dengan menggunakan jembatan
  • timbang, kemudian rata-ratanya dikalikan dengan total angkutan per hari
  • Mengukur berat setiap angkutan di jembatan timbang di TPA.

Jumlah sampah yang sampai di TPA sulit untuk dijadikan indikasi yang akurat mengenai timbulan sampah yang sebenarnya di sumber. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kehilangan sampah di setiap tahapan proses operasional pengelolaan sampah tersebut, terutama karena adanya aktivitas pemulungan atau pemilahan sampah.

Untuk keperluan tertentu, misalnya menentukan volume yang dibutuhkan untuk pewadahan sampah atau menentukan potensi daur ulang, perlu diupayakan untuk mengukur jumlah sampah di sumber. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sampling sampah langsung di sumbernya. Karena aktivitas domestik bervariasi dari hari ke hari dengan siklus mingguan, sampling sampah di sumber harus dilaksanakan selama satu minggu (umumnya 8 hari berturut-turut).

Penentuan jumlah sampel yang biasa digunakan dalam analisis timbulan sampah adalah adalah dengan pendekatan statistika, yaitu:

  1. Metode Stratified Random Sampling: yang biasanya didasarkan pada komposisi pendapatan penduduk setempat, dengan anggapan bahwa kuantitas dan kualitas sampah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat.
  2. Jumlah sampel minimum: ditaksir berdasarkan berapa perbedaan yang bisa diterima antara yang ditaksir dengan penaksir, berapa derajat kepercayaan yang diinginkan, dan berapa derajat kepercayaan yang bisa diterima.
  3. Pendekatan praktis: dapat dilakukan dengan pengambilan sampel sampah berdasarkan atas jumlah minimum sampel yang dibutuhkan untuk penentuan komposisi sampah, yaitu minimum 500 liter atau sekitar 200 kg. Biasanya sampling dilakukan di TPS atau pada gerobak yang diketahui sumber sampahnya.

Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah di Indonesia biasanya dilaksanakan berdasarkan SNI M 36-1991-03. Penentuan jumlah sampel sampah yang akan diambil dapat menggunakan formula berikut:

  • Bila jumlah penduduk ≤ 106 jiwa

  • Bila jumlah penduduk > 10 6 jiwa

 

Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga

Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini, khususnya di kota, tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan, maka bahan tersebut akan menjadi limbah, yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya, termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat, tabung bekas pewangi ruangan. Bahan-bahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga, yaitu:

  • di dapur, seperti: pembersih saluran air, soda kaustik, semir, gas elpiji, minyak tanah, asam cuka, kaporit atau desinfektan, spiritus / alkohol di kamar mandi dan cuci, seperti: cairan setelah mencukur, obat-obatan, shampo anti ketombe, pembersih toilet, pembunuh kecoa
  • di kamar tidur, seperti: parfum, kosmetik, kamfer, obat-obatan, hairspray, air freshener , pembunuh nyamuk
  • di ruang keluarga, seperti: korek api, alkohol, batere, cairan pmbersih,
  • di garasi/taman, seperti: pestisida dan insektisida, pupuk, cat dan solven pengencer, perekat, oli mobil, aki bekas

Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang mungkin terlihat asri, penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari, seperti penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian, yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah, namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan. Kegiatan agrowisata, seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya.

Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian, penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut, seperti kesulitan bernafas, kepala pusing, lamban, iritasi mata atau kulit. Oleh karenanya, pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan, misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak -anak.

Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas:

  • Produk pembersih:
    • bubuk penggosok abrasif: korosif
    • pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif
    • pengelantang: toksik, korosif
    • pembersih saluran air: korosif
    • pengkilap mebel: mudah terbakar
    • pembersih kaca: Korosif (iritasi)
    • pembersih oven: korosif
    • semir sepatu: mudah terbakar
    • pengkilap logam (perak): mudah terbakar
    • penghilang bintik noda: mudah terbakar
    • pembersih toilet dan lantai: korosif
    • pembersih karpet/kain : korosif, mudah terbakar.
  • Perawatan badan:
    • shampo (anti ketombe): toksik
    • penghilang cat kuku: toksik, mudah terbakar
    • minyak wangi: mudah terbakar
    • kosmetika: toksik
    • obat-obatan: toksik
  • Produk otomotif:
    • cairan anti beku: toksik
    • oli: mudah terbakar
    • aki mobil: korosif
    • bensin, minyak tanah: mudah terbakar, toksik
  • Produk rumah tangga lain:
    • cat: mudah terbakar, toksik
    • pelarut / tiner: mudah terbakar
    • baterei: korosif dan toksik
    • khlorin kolam renang: korosif dan toksik
    • biosida anti insek: toksik, mudah terbakar
    • herbisida, pupuk: toksik
    • aerosol: mudah terbakar, mudah meledak

Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain, seperti timbulnya gas toksik bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang yang mengandung khlor, atau menimbulkan ledakan bila tabung sisa aerosol terbakar di bak sampah.

Tabel Limbah Berbahaya dari Rumah Tangga (Amerika Serikat)

Sumber:
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008)
Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

https://jujubandung.wordpress.com/2012/05/25/822/

GUBERNUR JATENG MENDADAK BERSIH-BERSIH DI TAMAN KOTA SALATIGA

GUBERNUR JATENG MENDADAK BERSIH-BERSIH DI TAMAN KOTA SALATIGA
Published in Nasional Senin, 17 November 2014 13:42

Ganjar Pranowo saat melakukan blusukan bersih-bersih di taman kota Salatiga, Jawa Tengah (Gambar: metronews.com)
Ganjar Pranowo saat melakukan blusukan bersih-bersih di taman kota Salatiga, Jawa Tengah (Gambar: metronews.com)
Medialingkungan.com – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kembali melakukan blusukan dengan aksi membersihkan taman kota Salatiga di kawasan jalan lingkar Salatiga kemarin (16/11). Agenda tersebut secara spontan ia inisiasi guna memberikan contoh positif kepada masyarakat untuk sadar berlingkungan. Hal ini ditengarai banyaknya sampah yang berhamburan di kawasan tersebut dan membuat Ganjar merasa terpanggil untuk segara membereskan sampah-sampah itu.

59cf578b8924155f92d236307362633c_L

Aksi ini praktis merebut perhatian banyak masyarakat yang berada di kawasan itu, baik warga yang melintas maupun sedang bersantai di taman itu. Para warga dan beberapa pelajar yang melintas langsung menyalami Gubernur ramah senyum ini dan segera ikut memungut sejumlah sampah yang berserakan. “Wah ini ada murid SMA, hebat ini kalian,” katanya.

Menggunakan sapu milik petugas kebersihan taman kota, Ganjar beraksi menyapu beberapa sudut taman dengan wajah yang terus tersenyum.

Beberapa komentar warga berdatangan menanggapi aksi spontan ini. “ini baru pemimpin yang merakyat,” ujar Misto Boyong.

Warga menilai, blusukan yang dilakukan Ganjar ini merupakan contoh yang sangat baik dan perlu ditingkatkan.

Ganjar membagi tugas kepada sejumlah anak yang ikut melakukan pembersihan taman. “Jadi kita nyapu itu dibagi-bagi, terus diajari nyapu-nyapu, tapi tidak penting bisa atau tidak, yang penting anak-anak ini mau,“ ujar Ganjar pada rekaman video yang diunggah Metronews.com. (MFA)

sumber : http://medialingkungan.com/index.php/component/k2/item/836-gubernur-jateng-mendadak-bersih-bersih-di-taman-kota-salatiga

SEBANYAK 130.000 TON SAMPAH PERHARI DIPRODUKSI OLEH INDONESIA

SEBANYAK 130.000 TON SAMPAH PERHARI DIPRODUKSI (timbulan ibs.)OLEH INDONESIA

Published in Nasional

Rabu, 16 April 2014 08:00

Produksi sampah di Indonesia Capai 130.000 ton perhari
Produksi sampah di Indonesia Capai 130.000 ton perhari

Medialingkungan.com- Indonesia memiliki penduduk 327 juta jiwa berbanding lurus dengan produksi sampah seiap harinya. Diperkirakan, tahun 2025 produksi sampah di Indonesia akan mencapai angka 130.000 ton perhari. Ancaman itu bukan tanpa alasan. Pasalnya aktivitas masyarakat pada umumnya menuntut untuk selalu berhubungan dengan makanan dalam kemasan.

hitungan rata-ratanya tiap orang diperkirakan membuang sampah 0,5 kg sampah per hari. Sementara angka produksi sampah pelastik Indonesia telah mencapai 5,4 juta per tahun.

Sri Bebassari, Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InsWA) beberapa waktu lalu mengatakan, “Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik yang mencapai 5,4 juta ton pertahun itu hanya 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia”.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, khusus di Jakarta tumpukan sampah telah mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik.

Keseluruhan sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter. (AND)

sumber : http://medialingkungan.com/index.php/component/k2/item/213-sebanyak-130-000-ton-sampah-perhari-diproduksi-oleh-indonesia

Cool Tips From Bea Johnson’s Zero Waste Home : to Refuse, to Reduce, to Recycle, to Rot

Tips

Here are my Top 10 tips in eight categories to lower your waste at home. Each section is a condensed version of a posting and a full chapter of my book, so please consult them for further information. For product recommendations, please visit the store or follow the links!

Before you start:

  1. Welcome alternatives to disposables (paper towels, garbage liners, wax paper, aluminum sheets, disposable plates, cups, etc….): Swap paper towels for reusable rags, swap sandwich baggies for kitchen towels or stainless containers, drop garbage liners all together (wet waste is mostly compostable anyways).
  2. Buy in bulk or at the counter (see Zero Waste Grocery Shopping), bring reusable bags (dry goods), jars (wet items such as meat, deli, fish, cheese, oil, peanut butter) and bottles (liquids: oil, soy sauce, shampoo, conditioner).
  3. If you cannot find it in bulk, find a supplier (bring your jar to the ice cream shop, a pillow case to the bakery for your bread, or your bottles to the winery/brewery)… or make it (mustard, salad dressing, hot sauce, jams, OJ, hummus, cookies, canned tomatoes).
  4. Shop the farmer’s market: they’ll take the egg carton and the berries baskets back for reuse. Your veggies will also most likely be free of plastic and stickers.
  5. Learn to love your tap water.
  6. Use bulk liquid castile soap as a dish/hand cleaner, baking soda as a scrubber (in a stainless Parmesan dispenser) with a compostable cleaning brush (a wooden one with natural hair). Purchase dishwasher detergent in bulk.
  7. Turn your trash can into a big compost keeper. Use your tiny compost keeper as a trash can (on the market, the sizes for these seem to be reversed).
  8. Reinvent your leftovers before they go bad. Go thru your recipe binder/box and only keep the recipes that can be achieved with zero waste in mind.
  9. Invest in a pressure cooker (halves the cooking time).
  10. YOU CAN ALSO… Reuse single-side printed paper for grocery shopping and errands list, use your lettuce cleaning water to water plants, open your oven after baking in the winter (cool your oven, warm your house)…

  1. Use 100% recycled and unbleached toilet paperindividually wrapped in paper (if you have solar you could install an electrical washlet to your toilet seat).
  2. Use an alum stone or straight baking soda as antiperspirant.
  3. For shaving, (re)use a safety razor and shaving soap(any rich soap, such as Alep soap will do).
  4. Refill your bottles with bulk shampoo and conditioner. If your hair is short, you also have the “no-poo” option: rinse your hair, massage baking soda in, then rinse, with vinegar for shine. Or use a shampoo bar. Instead of hairspray, switch tolemon water in a spray bottle (see Recipes). To go longer between washes, substitute dry shampoo for cornstarch (in bulk).
  5. For body/face soap, find a package-free solid soap. To exfoliate, use bulk baking soda. For a mask, use bulk clays (French, Kaolin, Bentonite, etc…), mixed with water or apple cider vinegar.
  6. Switch from toothpaste to homemade tooth powder (see Recipes), in a glass parmesan dispenser. Use a wooden compostable toothbrush.
  7. Reduce your cosmetics and consider homemade substitutes such as cocoa powder as bronzer and homemade balm that works on eyes, lips, hair and nails (see Recipes) and in lieu of disposable feminine products, invest in menstrual cup and reusable liners.
  8. All you need for your nails is a nail clipper, stainless steel file and the homemade balm for moisture and shine.
  9. Forget about Q-tips, they are not good for you anyways. Do your research.
  10. YOU CAN ALSO… compost hair and nail clippings, put a brick in your toilet tank, collect water in a bucket while your shower heats and water your plants with it, and use zero waste cleaning: microfiber cloths for mirrors, vinegar for mold, baking soda as scrub, a mix of baking soda and vinegar as drain cleaner (see Cleaning and Recipes)…

  1. Welcome natural cleaning alternatives: Castile soapon floors and sinks, homemade all purpose cleaner(see Recipes), baking soda for scrubbing jobs, andvinegar for mildew.
  2. Welcome alternative house cleaning tools: a metal scourer on stainless, a wooden brush for light scrubbing, an old toothbrush for hard to reach places and rags for everything else (counters, floor, fridge, etc… for mirrors and windows, just add water… no window cleaner needed).
  3. Sweep your floors with a boar bristle or silk broom,wash with a wet microfiber mop and a few drops of castile soap.
  4. Use worn-out clothing items made into rags on your un-washable messes (wax/auto grease/glue/caulk).
  5. Buy dishwasher detergent in bulk and use white vinegar as a rinsing aid.
  6. Let houseplants absorb toxins and clean your air. Open a window instead of plugging in an air freshener.
  7. Laundry washing once a week saves time and dryer energy costs, use a laundry detergent sold in bulk, full loads, and cold water cycles as much as possible. Savon de Marseille, dishwasher detergent, chalk, lemon or vinegar work great on stains.
  8. Dry on a line when possible.
  9. Iron fewer things and use a homemade starch in a stainless spray bottle (see Recipes).
  10. YOU CAN ALSO… find a sustainable dry cleaner (one that offers a reusable garment bag and non-toxic cleaners), compost dryer lint and dust bunnies…

  1. Remember to bring extra jars to the grocery store when shopping for company (including take-out).
  2. Make finger foods for larger parties and consider serving tap water with lemon slices instead of fizzy water.
  3. Use ceramic dishes and cloth napkins at all times.
  4. Avoid the use of serving platters/dishes: When serving straight onto dinner plates, it simplifies, saves water from extra cleaning, and it allows for a plate presentation.
  5. Find creative ways to decorate your table with few napkin folding tricks, discarded leaves/branches from the yard, or just seasonal fruit…
  6. Reuse empty votive tins (and the wick base) to make new votive candles for company with bulk beeswax and lead-free wick.
  7. Stop buying CD and DVD’s – download music and videos online.
  8. Bring a jar of a homemade consumable, or your favorite bulk item wrapped in Furoshiki as a hostess gift. Give the gift of an experience as a birthday present.
  9. Educate your friends about your zero waste efforts (so they don’t bring waste into your home)
  10. YOU CAN ALSO… bring your own container for leftovers when dining out, use rechargeable batteries for those remote controls, try living without TV for a while…
  1. Refuse, and therefore help stop the madness of the free-pen / free-pencil give-aways.
  2. Use refillable pens, piston fountain pens, mechanical pencils, refillable white board markers and donate extra office material (paper, pencils) to your public school’s art program.
  3. Start your personal junk mail war, cancel your phone directories, and sign up for electronicbills and statements.
  4. Reuse single-side printed paper for printing or making notepads held by a metal clip, reuse junk mail response envelopes and when buying new paper, choose recycled and packaged in paper.
  5. Ditch the trash can, strive to use your compost and recycling bins exclusively.
  6. Use, Reuse and Request recyclable paper packing material when shipping (incl. paper tape), print postage and addresses directly on your envelopes, use surface mail, use a return address stamp instead of stickers.
  7. Reuse paper clips (available in bulk) instead of staples, or a staple-free stapler.
  8. Use your library to read business magazines and books, sell your books or donate them to your library for other people to enjoy.
  9. Use memory sticks and external drives instead of CD’s.
  10. YOU CAN ALSO… use a power strip on your equipment, refill your printer cartridges, make paper with double-side printed paper, take packing material that you receive to your local shipping center for reuse…

  1. Stick to minimal wardrobes, shoes and purses.
  2. Only shop a couple times a year to avoid compulsive buys.
  3. Buy second-hand clothing 
  4. If you must buy new, buy quality with minimal tags (leave the shoe box at the store).
  5. Be ruthless on fit, if it fits well, you’re most likely to wear it.
  6. Bring a reusable bag for your purchases.
  7. Donate unworn pieces.
  8. Keep some of your worn-out clothes for rags and label the rest as “rags” for Goodwill to recycle.
  9. Learn of few sewing tricks (like shortening a hem or darning).
  10. YOU CAN ALSO… take it to the tailor for a better fit so you’ll actually wear it, and keep a handkerchief in your purse/bag…
  1. Keep only a minimal supply, so you can see what you have.
  2. Ask your pharmacy to reuse your prescription jar. It’s illegal for pharmacies to refill them in CA, but your state might allow it.
  3. Choose tablets (pain reliever, for example) in a glass or at default a plastic jar (usually a recyclable #2), instead of the tablets individually wrapped in aluminum/plastic.
  4. Do not buy jumbo size medication jars, they expire way before you can finish them.
  5. Choose metal tubes instead of plastic.
  6. Invest in a Neti pot: Great to clear out your sinuses with just water and sea salt.
  7. Consider a few natural alternatives: a corn silk tea for prostate relief, a senna leaf tea for constipation relief or an oatmeal bath for skin relief.
  8. Clean cuts and scrapes with soap and water, forgo the plastic band-aids and let air-dry.
  9. Do not use everyday antibacterial products, they make bad bacteria stronger.
  10. YOU CAN ALSO… reconsider your true need for vitamins (as opposed to a healthy varied diet) and use sunscreen moderately (you don’t want skin cancer or vitamin D deficiency)…
  1. Use drought tolerant and native plants, replace your lawn with short native grasses.
  2. Make room for compost. Pee in your citrus and compost. Consider a worm composter for liquid fertilizer, a separate pet composter for your dog’s feces.
  3. Return plastic containers to the nursery.
  4. Find bulk seeds.
  5. Give away plants (also, landscaping rocks, fencing, irrigation piping, etc…) that you do not want anymore. Post them on the free section of Craigslist.
  6. Find a bulk garden center, and refill reusable sand bags with dirt, rocks, compost, etc.
  7. Consider investing in an irrigation controller with a rainwater sensor.
  8. Install rainwater and gray water catchments (check your city ordinances for the latter).
  9. YOU CAN ALSO… Keep a minimal and quality tool selection made of metal and wood (which can be repaired more easily)…

source : http://www.zerowastehome.com/p/tips.html

BigBelly — Solar Waste Bin Compactor

BigBelly

From Wikipedia, the free encyclopedia
Trash compactor and recycling bin in center city Philadelphia, PA

BigBelly is a solar powered, rubbish-compacting bin, manufactured by U.S. company BigBelly Solar for use in public spaces such as parks, beaches, amusement parks, and universities. The bin was designed and originally manufactured in Needham, Massachusetts by Seahorse Power, a company set up in 2003 with the aim of reducing fossil fuel consumption. The first machine was installed in Vail, Colorado in 2004. Other locations to since use the bin include Cincinnati, Ohio, Boston, Massachusetts; Chicago, Illinois; Dallas, Texas;Baltimore, Maryland; Philadelphia, Pennsylvania; Ventura, California; Oakland, California; San Diego, California; Queens, New York;Aberystwyth; and Aberdeen, Scotland; London, England. Due to the bin’s commercial success, Seahorse Power changed its name to BigBelly Solar.

Bigbelly_Phila

Operation

The bin has a capacity of 567 litres. Its compaction mechanism exerts 5.3kN of force, increasing the bin’s effective capacity by five. The compaction mechanism is chain-driven, using no hydraulic fluids. Maintenance consists of lubricating the front door lock annually. The mechanism runs on a standard 12 volt battery, which is kept charged by the solar panel. The battery reserve lasts for approximately three weeks. Wireless technology-enabled units report their status into the CLEAN (Collection, Logistics, Efficiency and Notification system) dashboard that gives waste management and administration insights for monitoring and route optimization. BigBelly Solar also provides companion recycling units that allow cities, parks and universities to collect single-stream or separated recyclable materials in public spaces.

References

source : http://en.wikipedia.org/wiki/BigBelly