Kontak dan Alamat Bank Sampah di Depok

Bank Sampah


Jl, Kartini No.9 Depok, Telepon (021) 77200537





JL. Kepel Raya Komplek Pancoran Mas Permai, Kel. Mampang, Telepon (021) 7774748

Camat meresmikan bank sampah 7.3


bank sampah

Nama dan Lokasi Lapak/Pengepul/Bank Sampah Besar

1. D’Sampah Center RT.01/13 Kelurahan Pancoran Mas,

Pimpinan : Bpk. Baron / Ibu Wulan

No.Telepon : 0811891238

2. Bank Sampah Mentari, Jl. Rajawali No.34 RT.01/04  Beji,

Pimpinan : Bpk. Isnarto

No. Telepon : 082112800829

3. Pok Lili (Kelompok Peduli Lingkungan), Sukmajaya

Pimpinan : Ibu Djuniawan Wanitarti

No. Telepon : 08176621186

4. Bank Sampah Depok, Jl. Merdeka No.1 Kelurahan Abadijaya Sukmajaya

Pimpinan Abdurahman (Abra)

No. Telepon : 081310789695

5. Bank Sampah Warga Sejahtera RW.007 Perumahan Pancoran Mas Permai

Pimpinan : Bpk. H. Kusumo

No. Telepon : 08161876234, 085311876234

6. Warga Peduli Lingkungan

Pimpinan : Ibu Sri Wulan

No. Telepon : 08111149699

7. Bank Sampah Kusuma Wijaya

Pimpinan : Ibu Tio

No. Telepon : 08158701329

8. Bank Sampah Al Barkah

Pimpinan : Ibu Ismiati

No. Telepon : 081289753685


sumber : http://panmas.depok.go.id/informasi/bank-sampah


Berlin duo launch a supermarket with no packaging

Berlin duo launch a supermarket with no packaging

Shrink-wrapped shallots and polystyrene-packed peppers are a thing of the past at Original Unverpackt, a German concept store selling groceries without the packaging

Original Unverpackt founders Sara Wolf and Milena Glimbovski. Photograph: Unverpackt

It works like this. You bring your own containers and have those weighed. Berlin-based supermarket Original Unverpackt labels your containers. You shop. When you get to the till, the weight of your containers is subtracted and you pay for the net weight of your groceries. The label is designed to survive a few washings so you can come back and skip the weighing process for a while.

Founders Sara Wolf and Milena Glimbovski say there’s a rising demand for products and services that deal with sustainability and that people demand alternatives to the “lavish” handling of our resources.

“Here, the customer only takes what they need,” says Wolf and Glimbovski ahead of the launch of their Berlin-Kreuzberg shop. “We’d like to offer an alternative way of shopping – one where we offer everything you need but you won’t find hundreds of different types of body lotion or olive oil.”

Original Unverpackt isn’t a new idea. Austin, Texas, has In.Gredients and Catherine Conway founded London-based Unpackaged – first in Islington in 2007 before it moved to Hackney in 2012. It closed the following year after the original business model changed to include a restaurant and a bar. All three are independent shops exploring the psychology of food and consumption.

“If you are trying to counter the modern way of ready-to-assemble food, then you have an uphill climb,” says Conway. Food in this extreme, where a ready-made curry in a plastic box gets zapped into something you stick in your face, has been divested of any of its pleasurable aspects and is treated as fuel. “It’s nothing to do with the products you have on offer, it’s more to do with the psychology of marketing and being sold the idea of time saving ways of eating.”

In 2011, the UK produced nearly 11m tonnes of packaging waste. Yet companies still sell packaged, pre-peeled bananas.

Food waste campaigner Tristram Stuart, says supermarkets have cottoned onto the ‘ethical consumer’. “The food and packaging industry has undergone a strategic rebranding campaign [and now] argues that you can reduce food waste by how it’s packaged. So you get pots of cubed-up mango instead of an actual mango. We then buy supermarket branded reusable shopping bags which we hang in our hallways which turn our homes into billboards for these places. It’s a distraction from the real issue which is turning nature into cash to satisfy unnecessary consumer desires.”

There is an argument that opening unpackaged stores in neighbourhoods with a high proportion of upwardly mobile hipsters out-prices the poorer, local communities. Original Unverpackt says it “would like to offer this new way of shopping to a broad range of customers” including those on small budgets, but admit that their Berlin-Kreuzberg shop sits next to a vegan burger restaurant and ‘alternative’ environments can’t help but be tainted by middle-class privilege.

“The original idea for Unpackaged was to make organic food cheaper for people on low incomes if we removed the packaging,” says Conway. “I didn’t have the buying power to drop my prices. Yet when I price checked something like organic oats, I found that a supermarket would charge more than I did.” What Conway was trying to do, she says, “was to see if we could set up a social franchise model that catered to a local community, local tastes and local incomes”.

Brighton-based social enterprise hiSbe offers an unpackaged section within a more conventional supermarket. Emphasis is on locally-sourced products and its business model includes pricing transparency – so you know how much of your pound goes towards the supplier, staff wages and so on. They want to make ethical and sustainable shopping the norm.

Ultimately the issue isn’t how sustainable or ethical your purchase is, but whether you should be buying it at all. “We continue to exploit resources and extend our agricultural development into the world’s last remaining forests displacing both indigenous populations and natural habitats so we can have strawberries in December,” says Stuart. “Is it possible to make the kind of societal changes to make us live in symbiosis with all the world’s creatures? Yes, but at the moment there are no significant global trends that point in that direction.”

Selling unpackaged groceries is a progressive concept borne out of the bulk buying trends of the 1980s, but it is only part of a solution towards less industrialised consumption. It’s one of the myriad of options pushed out to people as alternative ways of buying. We’re getting better with managing waste – nearly 70% of the UK’s waste is recovered or recycled compared to 27% in 1998. But it is a drop in the ocean when you consider the vast quantities disposed of by China, Russia and the United States.

An unfortunate side effect with every sustainable or ethical business is that regardless of the altruism behind each recycled, upcycled, unpackaged or renewable product is that sustainability ultimately means the sustainability of profit, not planet.

sumber : http://www.theguardian.com/sustainable-business/2014/sep/16/berlin-duo-supermarket-no-packaging-food-waste

Tak Ada Tempat, Warga Pilih Buang Sampah ke Waduk Pluit

Tak Ada Tempat, Warga Pilih Buang Sampah ke Waduk Pluit

Kamis, 12 Februari 2015 | 19:50 WIB
KOMPAS.COM/Ai Chintya RatnawatiEceng gondok dan sampah yang mengapung di Waduk Pluit, Kamis (12/2/2015)

JAKARTA, KOMPAS.com — Tumpukan sampah bercampur eceng gondok menumpuk di tepi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Sampah-sampah itu dikeruk dari dasar waduk. Pengerukan tersebut terus berlangsung.

Menurut Baso, personel TNI AD yang terlibat dalam pengerukan, ketebalan sampah di Waduk Pluit itu mencapai 5 meter. PantauanKompas.com, Kamis (12/2/2015), sampah-sampah plastik tampak mengapung di permukaan waduk.

“Sampah-sampah tersebut berasal dari warga di sekitaran Waduk Pluit. Materialnya pun beragam sampai ada kasur segala,” kata Baso kepada Kompas.com, Kamis.

Pengerukan terus dilakukan begitu juga warga yang membuang sampah ke dalam waduk.  Seorang warga, Gunawan (40), mengaku masih membuang sampah di situ. Dia berdalih tidak tersedia tempat sampah di sekitar waduk.

“Pemerintah tidak menyediakan tempat sampah, jadi saya buang saja ke waduk,” ucap Gunawan.

Hal senada dilontarkan oleh Tuwiyah (53). Dia mengaku setiap hari membuang sampah ke Waduk Pluit. “Saya buang sampah ya tinggal ke waduk, rumah saya kan di atas waduk,” ujar Tuwiyah.

Gunawan mengaku tahu soal peraturan daerah yang menyebut ada sanksi berupa denda, dari Rp 500.000 hingga Rp 50 juta, bagi siapa pun yang membuang sampah sembarangan.

“Saya tahu, tetapi kalau pemerintah tidak menyediakan tempat sampah bagaimana saya akan menaatinya,” ujar Gunawan yang mengaku rela membayar iuran sampah.

sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/02/12/19505351/Tak.Ada.Tempat.Warga.Pilih.Buang.Sampah.ke.Waduk.Pluit

Wali Kota Osaki Jepang Kunjungi Bank Sampah SMPN 2 Depok

Wali Kota Osaki Jepang Kunjungi Bank Sampah SMPN 2 Depok


Akhir tahun 2012 SMPN 2 Depok meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional dan akan dilanjutkan untuk meraih Sekolah Adiwiyata Mandiri Nasional. Untuk mencapainya diperlukan usaha yang lebih berat dari sebelumnya, antara lain harus mampu membina 10 sekolah negeri atau swasta sampai sekolah-sekolah tersebut meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Selain itu, aktifitas dibidang lingkungan harus lebih ditingkatkan. Sebagai koodinator Adiwiyata disekolah tempat saya bertugas, saya memikirkan usaha apalagi yang harus dilakukan.

Dengan bantuan teman-teman akhirnya saya mendirikan Bank Sampah SMPN 2 Depok yang kegiatannya mewajibkan siswa-siswa untuk mengumpulkan botol kemasan dan gelas bekas minuman jajanan mereka kemudian menyetorkan ke Bank Sampah. Petugas Bank Sampah akan menimbang, memilah dan mencatat kedalam buku tabungan bank sampah.







Selain itu, Bank Sampah juga membuat pupuk kompos yang bahan bakunya dari sampah dedaunan dan sampah sisa-sisa makanan.





Setelah usaha tersebut kami lakukan, akhirnya pada hari Selasa tanggal 3 Februari 2015 Walikota Osaki jepang Higashi Yushiro dan staf berkenan mengunjungi Bank Sampah SMPN 2 Depok .








Ada yang menarik perhatian saya saat kunjungan itu. Begitu tiba digerbang sekolah, Walikota Osaki menyapa dan bersalaman dengan guru-guru dan para undangan lalu langsung menuju lokasi Bank Sampah, memberi pengarahan cara pengolahan pupuk kompos yang baik. Setelah satu jam dan dirasa cukup, Walikota Osaki langsung menuju kendaraan yang akan membawanya untuk melanjutkan kunjungan kerja ditempat lain. Tanpa minum, tanpa jamuan apapun meskipun pihak sekolah telah menyediakannya.

Foto: Dokumen Pribadi

oleh : Wiwi Gustiwi (http://www.kompasiana.com/www.wiwigustiwi.multiply.com)

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2015/02/05/walikota-osaki-jepang-kunjungi-bank-sampah-smpn-2-depok-705270.html

Kumpulan Berita Persampahan Nomer 1: Pejabat Cirebon Gadaikan SK dan Mobil demi Tangani Sampah

  1. Pejabat Cirebon Gadaikan SK dan Mobil demi Tangani Sampah

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/02/04/16193271/Pejabat.Cirebon.Gadaikan.SK.dan.Mobil.demi.Tangani.Sampah.

Sampah Meluap di Kota Cirebon

Beberapa gerobak sampah yang tertumpuk di badan jalan, dan aktifitas pembersih TPS, mengganggu akses lalu lintas di sekitar Jalan Tuparev, Kecamatan Kejaksan, KOta Cirebon, Jawa Barat, Rabu siang (4/2/2015). Bila dana operasional pengangkutan sampah masih terkendala, beberapa hari ke depan, KOta Cirebon akan dipenuhi sampah.

Diinformasikan, anggaran di Kota Cirebon untuk tahun 2015 seluruhnnya belum dapat dicairkan. Hal ini terjadi lantaran wali Kota Cirebon belum menandatangani Surat Keputusan untuk penyerapan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2015, karena sakit.

Taufan berharap, wali Kota Cirebon segera sembuh dan dapat kembali menunaikan kewajibannya sebagai kepala daerah. Namun bila masih memerlukan pengobatan, ia berharap, proses pemindahan kewenangan roda Pemerintahan Kota Cirebon dapat segera terealisasi.

Solusi : Perlu pengalihan kewenangan untuk perstujuan pencairan APBD untuk operasional persampahan.

  1. Resmi Didaftarkan Jadi Situs Bersejarah, Kota Tua Perlu Dibenahi Total

Sumber: http://properti.kompas.com/index.php/read/2015/02/03/194734421/Resmi.Menjadi.Situs.Bersejarah.Dunia.Kota.Tua.Perlu.Dibenahi.Total

Kawasan Kota Tua resmi terpilih untuk mewakili Indonesia dalam memperebutkan predikat situs sejarah dunia atau World Heritage Sites yang digelar oleh UNESCO. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Purba Hutapea, ajang ini menjadi semangat pemerintah daerah untuk membenahi kawasan tersebut.

“Kota Tua sudah lama tertidur dan harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Kita yakin kota tua itu sebetulnya kekayaan budaya bangsa Indonesia sebenarnya tersimpan. Ini harus ditunjukkan pada dunia,” ujar Purba, Selasa (3/2/2015).

Purba menjelaskan, Kawasan Kota Tua menyimpan nilai pluralisme dan arsitektur yang langka.


“Kalau kita lihat, bagaimana tidak terurusnya kawasan itu. Infrastruktur terlantar, Kali Besar kotor, bangunan-bangunan hampir roboh, pedagang kaki lima sembarangan berdagang, dan sampah berserakan,” sebut Purba.

Dia melanjutkan, di kawasan itu juga hampir tidak ada regulasi. Menurut Purba, kapan pun orang-orang bisa ke sana.

Solusi : Didorong untuk penyusunan penanganan persamapahan di kawasan bernilai budaya. Penanganan persampahan yang baik dapat meningkatkan nilai estetis kawasan situs bersejarah.

Kota tua juga dapat dicanangkan menjadi kawasan bebas sampah sesuai dengan pasal  83 PERDA DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013, Tentang Persampahan.

  1. Banyak Taman, Bahagiakah Warga Bandung?



Kehadirantaman-taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Fotografi, dan Taman Film, di Kota Bandung dengan tujuan besar menjadi “kota bahagia”, dinilai berbagai kalangan sebagai hal yang positif. Meskipun demikian, apakah warganya bahagia?


“Cukup nyaman untuk main di taman kota, tapi semakin ke sini ada fasilitas yang kurang terawat. Kesadaran pengunjung taman juga masih kurang, masih ada yang buang sampah sembarangan,” ujar Olfi.

Adithya menambahkan, sebenarnya akan lebih baik jika pengunjung mampu menjaga kebersihan taman-taman tematik yang ada. Hal ini ia maksudkan agar taman kota lebih nyaman untuk dipakai sebagai sarana publik.

“Ya ini kan sarana publik, memang harusnya dijaga sama-sama. Di beberapa acara sih, biasanya suka ngeliat sampah berserakan. Harusnya bisa lebih menjaga kebersihan, tempat sampah kan sudah disediakan,” tandas Adithya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Penataan dan Pembangunan Taman, Rikke Siti Fatimah, mengatakan, sebenarnya telah ada tiga pihak yang turut mengurus pemeliharaan taman di Kota Bandung, antara lain petugas Dinas Pertamanan, pegawai harian lepas, serta pihak ketiga. Namun, tak semata-mata pemeliharaan dilepaskan kepada tiga pihak tersebut.

Menurut Rikke, meskipun telah ada petugas pemeliharaan, masyarakat juga harus terlibat langsung dalam pemeliharaannya.

“Kita melibatkan masyarakat dalam mengelola taman. Masyarakat bukan hanya jadi pengguna tapi juga sebagai pemelihara. Setelah taman digunakan, masyarakat wajib membersihkan kembali sampah yang berserakan. Jangan bergantung pada Dinas Pertamanan,” ujar Rikke.

Saat ini, telah ada sepuluh taman yang dibuat di Kota Bandung: Taman Musik Centrum, Taman Fotografi, Taman Film, Taman Pustaka Bunga, Taman Anak Tongkeng, Taman Persib, Taman Pasupati, Taman Fitness, skate park, dan pet park.

Pada 2015 ini, Pemerintah Kota Bandung berencana menambah tiga taman tematik, yaitu Taman Piknik, Taman Caang Baranang, dan Study Park. Selain taman tematik, program “Satu RW, Satu Taman Bermain” juga akan dilaksanakan pada tahun ini.

Solusi : Sebaiknya kawasan publik dirawat dan penanganan sampahnya dilakukan oleh institusi, penyerahan kepada masyarakat tanpa pola yang jelas akan mengakibatkan pembiaran sampah di taman.

  1. Ditilang di Bandung karena Tak Punya Tempat Sampah, Warga Jakarta Protes

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/02/03/12142611/Ditilang.di.Bandung.karena.Tak.Punya.Tempat.Sampah.Warga.Jakarta.Protes

BANDUNG, KOMPAS.com – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung kembali menggelar razia bagi pengendara yang tidak memiliki tempat sampah di mobilnya, Selasa (3/2/2015). Razia yang digelar di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, tersebut dimulai pukul 08.00 WIB.

Selain mobil milik Pegawai Negeri Sipil (PNS), kendaraan pengunjung ataupun warga yang hendak mengurus keperluan surat menyurat juga ikut dirazia. Berdasarkan pantauan, hingga pukul 10.00 WIB, tercatat ada 19 orang pelanggar. Beberapa di antaranya adalah PNS dari Pekalongan dan PNS Pemkot Bandung.

“Dari 128 mobil yang diperiksa, ada 19 pelanggar,” kata Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kota Bandung, Memet Rahmatur, saat ditemui di sela-sela razia, Selasa pagi.

Di tempat yang sama, salah satu pelanggar, Erick Lazuardi (30), sempat tidak terima ketika akan ‘ditilang’. Padahal, jelas-jelas pria yang bekerja di Bandung Command Centre ini tidak memiliki tempat sampah di dalam mobilnya. Namun setelah berdebat panjang, Erick akhirnya mau membayar denda sebesar Rp 250.000.

“Saya dari Jakarta, jadi saya tidak tahu. Di Jakarta enggak ada kaya gini, ” ujarnya.

Erick pun mengaku tidak pernah tahu soal Perda tersebut. Menurut dia, sosialisasi peraturan tersebut masih kurang.

“Saya pilih biaya paksa karena enggak mau repot. Tapi jujur saya enggak ikhlas karena tidak ada peringatan dulu sebelumnya,” ungkapnya.

Solusi: Perda perlu disosialisasikan dengan baik agar ada kesadaran masyarakat, sehingga tidak terjadi keluhan bahwa peraturan tersebut tidak diketahui. Padahal tujuan utama dari peraturan daerah tentang persampahan agar tercapai lingkungan yang bersih dan bukan menjadi “jebakan” untuk masyarakat.

  1. Singapura Tak Lagi Bersih…




KOMPAS.com — Kampanye “Jaga Singapura Tetap Bersih”satu dasawarsa seusai kemerdekaan terbukti efektif membuat negara ini sangat bersih dan rapi. Namun, kini standar kebersihan telah menurun drastis selama tiga tahun terakhir.

Kepala Dewan Kebersihan Umum, Liak Teng Lit, yang memimpin “Gerakan Singapura  Bersih”, bercerita, saat itu, kurun 1970 dan 1980, Singapura sangat bersih. Tak ada secuil pun sampah terlihat di jalan-jalan kota dan pelosok-pelosok di luar kawasan bisnis utama.

“Namun, kondisi mulai berubah dalam tiga tahun terakhir. Standar kebersihan menurun tajam. Sampah mulai terlihat di beberapa sudut kota, di luar stasiun mass rapid transit(MRT), toko-toko, dan restoran cepat saji,” ujar Teng Lit.

Dengan “Gerakan Singapura Bersih” yang dirintisnya, Teng Lit berharap ada lebih dari 10 orang yang membersihkan satu ruas jalan dan kawasan-kawasan tertentu yang dinilai sangat kotor. Mereka bekerja secara bergantian.

“Kita harus menghadapi kritik dengan gerakan nyata,” pungkas Teng Lit.

Hikmah: Menjaga kesadaran akan kebersihan adalah hal sulit. Kecintaan kebersihan sudah seharusnya menjadi kebiasaan. Selain itu peran serta masyarakat perlu terus ditingkatkan agar permasalahan sampah tidak lagi menjadi masalah.

6.       Massa Sidang Praperadilan Bubar, PN Jaksel Penuh Sampah



JAKARTA, KOMPAS.com — Pasca-sidang praperadilan calon kepala Polri Komjen Budi Gunawan, Senin (2/2/2015) siang ini, halaman Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dipenuhi oleh sampah.
Sampah-sampah tersebut ditinggalkan ratusan orang yang hadir sejak pagi, Senin (2/2/2015). “Ya kalau sudah begini, ya gimana. Mau enggak mau ya dibersihkan sama petugas kita,” ujar Sair, salah satu staf bagian umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menurut Sair, pihak PN Jakarta Selatan telah mengimbau kepada para koordinator massa untuk tetap menjaga kebersihan Pengadilan Jakarta Selatan selama melakukan aksi mereka.

“Susah kalau begini mah, sudah dikasih tahu juga tetap saja buang sampah, jadi seperti pasar (pengadilannya),” keluh Sair.

Solusi: Orang yang membuang sampah sembarangan di Jakarta dapat dikenakan sanksi denda maksimal Rp 500.000 sesuai dengan Perda Tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 130, Ayat 1 huruf b.

7.       Di Gondangdia, Lurah Susan “Gaul” dengan Warga via WhatsApp

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/01/29/15464491/Di.Gondangdia.Lurah.Susan.Gaul.dengan.Warga.Via.Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com — Lurah Gondangdia Susan Jasmine Zulkifli ternyata juga menyebar nomor pribadinya kepada warga Kelurahan Gondangdia. Susan mengaku sering chattingmenggunakan aplikasi chat WhatsApp dengan warga untuk mendengar langsung keluhan para warganya.

“Nomor saya kan saya bagikan. Mereka kadang suka WhatsApp ke saya buat laporan,” ujar Susan di Kantor Lurah Gondangdia, Kamis (29/1/2015).

Dalam aplikasi WhatsApp Susan, terlihat salah seorang warga mengirimkan pesan kepada dia. Pesan tersebut berisi laporan mengenai jalan rusak yang ada di kawasan Gondangdia. Warga yang mengirim pesan pun juga mengirimkan foto kepada Susan mengenai situasi langsung jalan tersebut.

Warga lain juga ada yang mengadu soal adanya tumpukan sampah di lingkungannya. Laporan tersebut juga disampaikan lengkap dengan foto.

Susan mengatakan, laporan-laporan yang datang dari warga itu pun langsung dia teruskan kepada dinas terkait. Jika ada laporan jalan rusak, Susan akan meneruskannya ke Dinas Bina Marga DKI. Sementara masalah seperti tumpukan sampah biasanya masih dapat diatasi sendiri.


Hikmah : Penggunaan teknologi dapat mempercepat dan mengefektifkan pelayanan masyarakat. Pejabat / pemimpin adalah orang yang berkewajiban melakukan pelayanan prima untuk rakyatnya, maka pejabat haruslah mudah dihubungi dan selalu tersedia untuk rakyat yang dilayani.

Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Pasar Ciputat

Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Pasar Ciputat

Oleh / pada 8 Januari 2010 / di Ciputat, Tangerang Selatan // 3 Komentar

Saat pertama kali aku melintas di depan Pasar Ciputat, perhatianku langsung tertuju pada tepi jalan. Terlihat tumpukan sampah yang menggunung di pinggir jalan Pasar Ciputat. Baunya sangat menyengat dan mengganggu penciuman semua orang yang berada di sekitarnya. Tumpukan sampah ini tepat berada di depan Pasar Ciputat yang sangat berdekatan dengan tangga menuju lantai 2 dan 3 pasar. Terlihat beberapa pemulung yang sedang memilah-milah sampah plastik untuk dapat di daur ulang ditengah-tengah tumpukan sampah yang mayoritas sampah sayuran. Tumpukan sampah yang menggunung ini menyebabkan kemacetan di sekitar Pasar Ciputat, karena hampir setengah jalan tertutup dengan gunungan sampah.

Seorang pemulung diantara tumpukan sampah di TPS Pasar Ciputat

Terkadang saat melintasi tempat itu, aku melihat beberapa orang yang berada di lantai 2 dan 3 membuang sampah dari atas sehingga sampah-sampah itu tidak hanya berada di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) saja tetapi juga tersangkut di atap-atap yang terbuat dari seng. Aku selalu melihat ketidak pedulian masyarakat setempat terhadap tumpukan sampah tersebut, padahal mereka semua menyadari bahwa tumpukan sampah yang menggunung itu sangat menggangu para pengguna jalan dan penjual makanan serta Sekolah Yayasan Puspita Bangsa yang berada di dekatnya. Volume sampah yang menumpuk tidaklah sebanding dengan jumlah petugas kebersihan pengangkut sampah Tangerang Selatan yang hanya mengangkut sampah 2 hari sekali, sedangkan para pedagang dan masyarakat sekitar membuang banyak sampah di TPS tersebut setiap saat terutama sore dan malam hari. Hal ini mengakibatkan TPS pasar tidak pernah berada dalam keadaan bersih.

Tidak hanya aku yang merasakan betapa menariknya problema TPS Pasar Ciputat ini, tetapi teman-temanku yang lainnya juga merasakan hal yang sama, kami pun sepakat untuk menjadikan TPS Pasar Ciputat ini sebagai salah satu bingkaian video akumassa Ciputat. Rasanya sangat menjijikan berada sangat dekat dengan tumpukan sampah yang dikerumuni oleh lalat, belatung dan bau yang sangat menyengat hidung, aku begitu heran dengan para pemulung yang setip hari berada di tengah-tengah tumpukan sampah tersebut. Aku juga melihat dua orang anak kecil yang sedang memulung di TPS ini memakan sebuah buah durian yang sudah dibuang di TPS tersebut. sangat mengharukan melihat kejadian tersebut.



Para pedagang sayur, buah, dan daging membuang sisa-sisa dagangannya yang sudah busuk atau sudah tidak laku dijual ke TPS tersebut, bahkan petugas-petugas kebersihan yang membersihkan lingkungan rumah masyarakat yang berdekatan dengan TPS Pasar Ciputat pun membuang sampahnya di TPS Pasar Ciputat itu.

Sudah tiga hari ini aku melintasi TPS di sisi jalan Pasar Ciputat, keadaannya semakin berantakan dan ketinggian sampah hampir menutupi lantai 2 bangunan Pasar Ciputat, aku tidak melihat adanya truk pengangkut sampah yang biasa mengangkut sampah, bahkan tumpukan sampah ini sudah hampir menutupi lintas jalan Pasar Ciputat yang menuju ke Pasar Jumat dan sekitarnya. Ketika membaca Koran Kompas hari itu, ternyata terdapat berita mengenai sampah di Tangsel. Dalam berita tersebut tertulis bahwa sampah mengancam Tangsel (Tangerang Selatan). Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kabupaten Tangerang Selatan, Herry Haryanto, membenarkan kabar pemberhentian operasional kendaraan pengangkut sampah dan pemanfaatan TPA (tempat pembuangan sampah akhir) milik Kabupaten Tangerang. Sekitar 38 armada pengangkut sampah dihentikan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang, karena seluruh TPS yang berada di wilayah kota Tangerang Selatan kini dilarang membuang sampah di TPA yang berada di Jatiwaringin, milik Kabupaten Tangerang.

Sumber : http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/tempat-pembuangan-sampah-tps-pasar-ciputat/