British Council Indonesia : Social Enterprise Indonesia TPST 3R Mulyoagung – Malang

TPST 3R Mulyoagung is a winner Arthur Guinness Fund – British Council Community Entrepreneurs Challenge Wave IV. TPST 3R Mulyoagung is a community group which provides environmental sanitation service (door-to-door garbage collection) reaching around 5,350 families in four villages. Currently KSM TPST 3R Mulyoagung Bersatu employs around 65 people, consisting of 23 women and 44 men, whom it recruits directly from the community.

TPST 3R Mulyoagung adalah pemenang “Arthur Guinness Fund – British Council Community Entrepreneurs Challenge Wave IV”. TPST 3R Mulyoagung adalah Kelompok Swadaya Masyarakat yang memberikan pelayanan sanitasi lingkungan (pengangkutan sampah dari rumah ke rumah), cakupan pelayanan hingga 5.350 Keluarga di Mulyoagung. Saat ini KSM TPST 3R Mulyoagung Bersatu memperkejakan sekitar 65 orang, terdiri dari 23 wanita dan 44 pria, yang direkrut langsung dari komunitas sekitar.

sumber youtube: https://www.youtube.com/watch?v=75RjvYGyedg

Blog TPST 3R Mulyoagung Bersatu :    http://tpst-mulyoagungbersatu.blogspot.com/

Facebook TPST 3R Mulyoagung Bersatu : https://www.facebook.com/tpst.bersatu

Kontak Bapak F. Supadi (Ketua KSM) : 085102484444 / 085736040200 / 081235610785

email : f.supadi@yahoo.com /  f.supadi@gmail.com

Duh, Sampah Liar Mencapai 800 Ton

Duh, Sampah Liar Mencapai 800 Ton

Para pemulung mengumpulkan sampah yang belum dipilah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. (JIBI/HarianJogja/Gigih M. Hanafi)Para pemulung mengumpulkan sampah yang belum dipilah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. (JIBI/HarianJogja/Gigih M. Hanafi)

Masalah sampah di Bantul masih menyisakan persoalan, terutama sampah liar

Harianjogja.com, BANTUL-Sampah liar di Kabupaten Bantul diperkirakan mencapai 800 ton. Sampah itu tersebar setidaknya di 50 titik seluruh kecamatan se-Bantul.

Diakui sendiri oleh Kepala Unit Pelaksana Tugas  Kebersihan, Persampahan, Pertamanan dan Pemakaman (UPT KP3) Dinas Pekerjaan Umum Bantul Surono, sampah-sampah itu merupakan tumpukan yang tak masuk dalam depo serta bak sampah resmi dari pemkab. Akibatnya, tumpukan sampah itu membuat pemandangan kota menjadi terlihat kumuh.

Selain itu, ia juga menyayangkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk untuk membuang sampah pada bak sampah yang telah disiapkan pemkab. Untuk itu, pihaknya berharap kepada masyarakat untuk turut berlangganan sampah di instansi terkait, baik yang milik pemerintah maupun swasta.

“Jadi sampah itu terbuang di tempat yang seharusnya, tidak ditumpuk di sembarang tempat,” akunya saat dihubungi, Kamis (14/5/2015).

Rencananya, mulai bulan ini, secara bertahap pihaknya akan melakukan pengangkutan terhadap tumpukan sampah liar itu. Ia mengaku tak bisa melakukannya secara langsung.

Alasannya adalah lantaran jumlah armada pengangkut yang dimiliki oleh Kantor KP3 memang terbilang masih minim. “Kami hanya punya 12 unit dumptruck dan 2 unit motor bak roda tiga,” akunya.

Dikatakannya, di kuartal I tahun 2015 ini, ia sudah pernah melakukan pengangkutan sampah-sampah liar di kawasan Ring Road Selatan. Februari lalu, pihaknya harus mengerahkan setidaknya 4 unit truk untuk mengevakuasi sampah dari Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hingga persimpangan Blok O di Banguntapan Bantul. “Ketika itu, kami juga melakukan penyisiran di titik-titik lain. Seperti misalnya di sekitar Jalan Samas, Palbapang,” ujarnya.

Menurutnya, pada beberapa beberapa titik di tepi jalan raya jalan lingkar selatan yang dipasangi larangan buang sampah, sebab di spot itu bukan merupakan tempat pembuangan sampah, namun sering diabaikan warga maupun pengguna jalan.

Ia mengaku, awalnya tumpukan sampah di titik tersebut hanya sedikit. Namun, sedikit demi sedikit tumpukan itu semakin bertambah. “Entah karena memang ada warga sekitar yang membuang sampah itu, atau ada pengguna jalan yang juga ikut membuang sampah ke situ,” tuturnya.

Setelah diangkut, sampah lantas dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Piyungan. Petugas selanjutnya memasang spanduk bertuliskan larangan membuang sampah agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan. “Entah, spanduk itu masih ada atau tidak sekarang,” tegasnya.

sumber : http://jogja.solopos.com/baca/2015/05/16/masalah-sampah-di-bantul-duh-sampah-liar-mencapai-800-ton-604819

Warga Isyaratkan Tolak Perluasan TPA Piyungan

Oleh:Mediani Dyah Natalia/JIBI/SOLOPOS

Gunungan sampah di TPA Piyungan, Senin (11/5/2015). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)

Masalah lingkungan berupa perluasan TPA Piyungan

Harianjogja.com, BANTUL—Warga memberi sinyal kuat menolak rencana perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Piyungan.

Meski belum melakukan sosialisasi terkait rencana itu, warga dari dua dusun di sisi selatan TPA Piyungan menegaskan tidak setuju dengan rencana itu. Kedua dusun itu masing-masing adalah Dusun Depok dan Guyangan, Desa Wonolelo Kecamatan Pleret.

Kepala Dusun Depok Paiman M.Khobir mengakui, warganya dipastikan menolak jika area TPA Piyungan itu diperluas ke arah selatan. Kendati menurutnya wilayah Depok tak masuk area perluasan, dia khawatir, dampak perluasan itu mengakibatkan air di wilayahnya terkontaminasi.

Seperti diketahui, Dusun Depok dilalui oleh sungai kecil yang merupakan anak dari Sungai Pecing. Ia khawatir, sungai yang menjadi satu-satunya sumber air bersih bagi 210 kepala keluarga (KK) di wilayahnya itu akan tercermar sampah.

“Buktinya sekarang di [Dusun] Banyakan dan Sitimulyo yang terdampak langsung, airnya itu
sudah tak bisa dipakai. Sudah tercemar. Kami tak mau seperti itu,” ungkapnya saat dihubungi Senin (11/5/2015) siang.

Senada, Kepala Dusun Guyangan, Zainudi mengakui belum secara resmi mengeluh dan laporan, namun warganya sudah kerap mendesuskan perihal ketidaksetujuan mereka akan perluasan TPA itu ke arah selatan.

Selain kekhawatiran pencemaran air, warga juga mengeluhkan bau tak sedap yang bersumber dari gunungan sampah di TPA Piyungan itu. Diakuinya, Dusun Guyangan yang letaknya cukup jauh dari lokasi TPA saja, bau tak sedap sudah tercium.

“Apalagi nanti kalau diperluas ke arah selatan,” keluhnya.

“Jadi ya saya harap ke pemerintah yang berwenang, untuk berpikir masak-masak sebelum bertindak,” harapnya.

Kepala Desa Wonolelo Pujiastuti mengakui, hingga kini memang tak ada satu pun warganya yang melayangkan laporan dan keluhan langsung terkait TPA itu ke pihak pemerintah Desa Wonolelo. Itulah yang mengakibatkan pihaknya pun tak dapat bertindak apa-apa.

“Kaitannya dengan perluasan wilayah ke selatan, kami sama sekali belum dikomunikasikan kok,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIY Rani Sjamsinarsi membenarkan, di tahun 2016 mendatang, pihaknya berencana menambah luas area TPA Piyungan seluas dua hektare. Sementara untuk titik perluasannya, ia memperkirakan akan melakukannya ke arah selatan.

Secara keseluruhan, pihaknya menargetkan luas lahan TPA Piyungan mencapai 20 hektare. Hal itu dilakukannya dengan alasan untuk memperpanjang umur TPA.
“Sekaligus untuk mewadahi investor yang akan menghandle teknologi pengelolaannya,” ucapnya.

sumber : http://www.soloposfm.com/2015/05/masalah-lingkungan-warga-isyaratkan-tolak-perluasan-tpa-piyungan/

Pemda DKI dapat hibah 5 truk dari Pelindo

DKI Dapat Hibah 5 Truk Sampah dari Pelindo

WE MADE IT! 1.000 + VIEWS FOR INBESA!

KITA –INBESA.WORDPRESS.COM DAN ANDA– BERHASIL MENGAKUMULASI 1.000 TAMPILAN DALAM 5 BULAN…Terimakasih para pembaca dan surfer :*

we made it!

… DAN INI SAATNYA UNTUK LEVEL BERIKUTNYA 😀

Kelima truk ini akan dioperasikan di wilayah Jakarta Utara.

Senin, 11 Mei 2015 | 11:22 WIB
Oleh : Dedy Priatmojo, Fajar Ginanjar Mukti

DKI Dapat Hibah 5 Truk Sampah dari Pelindo

Pemda DKI dapat hibah 5 truk dari Pelindo
VIVA.co.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerima sumbangan sebanyak lima unit truk sampah dari PT Pelindo II. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengatakan, kelima unit truk sumbangan itu akan dioperasikan di wilayah Kotamadya Jakarta Utara.

“Kami khusus kirim ke utara,” ujar Ahok, sapaan akrab Basuki, di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 11 Mei 2015.

Truk-truk itu, kata Ahok, akan dipasangi sistem global positioning system(GPS) yang terintegrasi dengan sistem Jakarta Smart City. Hal ini dilakukan agar Pemprov DKI, juga masyarakat, bisa memantau keberadaan truk-truk itu.

Selama ini, Ahok mengatakan, banyak oknum sopir truk sampah yang dipekerjakan oleh Dinas Kebersihan DKI untuk mengoperasikan truk sampah. Namun, menurut dia, kadang disalahgunakan dan digunakan secara sembarangan.

Alih-alih terus mengangkut sampah warga, sopir-sopir truk itu, setelah menyelesaikan tugasnya, malah menggunakan truknya untuk mengangkut sampah dari pihak lain yang ingin mempergunakan jasanya.

Sopir truk itu, Ahok melanjutkan, kemudian membebankan biaya tertentu yang masuk ke kantongnya sendiri. “Makanya banyak oknum sopir kaya raya, punya istri tiga,” ujar Ahok.

Dengan diterapkannya sistem GPS itu, Ahok menegaskan, Pemprov DKI akan menangkap sopir truk yang kedapatan mengoperasikan truknya di luar jalur yang ditetapkan.

Penyerahan sumbangan truk dilakukan secara langsung oleh Direktur Utama PT Pelindo II Richard Joost Lino kepada Ahok di pendopo Balai Kota DKI.

Untuk selanjutnya, Ahok mengatakan, BUMN itu akan kembali menyumbangkan sebanyak dua unit perahu kapal pembersih tanaman eceng gondok untuk dioperasikan di waduk-waduk yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI.

Ahok mengatakan, DKI selalu terbuka dan mengapresiasi jenis-jenis sumbangan yang diberikan oleh perusahaan swasta maupun BUMN.

“Ya namanya dikasih orang, kita terima saja. Di dunia ini emang enggak ada yang lebih murah daripada merek ‘Kasio’, ‘Dikasih Orang’,” ujar Ahok berseloroh.