Selamat Idul Adha 1436 H

Selamat Idul Adha 1436 H

Iklan

Cara Mengelola Persampahan Perkotaan Secara Cerdas

Cara Mengelola Persampahan Perkotaan Secara Cerdas

Cara Mengelola Persampahan Perkotaan Secara Cerdas

Permasalahan sampah perkotaan

Salah satu masalah yang dihadapi oleh perkotaan di Indonesia adalah masalah persampahan. Sampah merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat perkotaan, karena segala aktivitas masyarakat perkotaan menghasilkan sampah. Produksi sampah perkotaan di Indonesia adalah sebesar 38,5 juta ton/tahun atau bila dirata-rata per-hari adalah sebesar 200.000 ton/hari. Jika dilihat dari segi pengelolaan sampah, maka diketahui bahwa 68 % sampah diangkut dan ditimbun, 9 % dikubur, 6 % diolah menjadi kompos dan daur ulang, 5 % dibakar, dan 7 % sampah tak terkelola (sumber :http://rumahpengetahuan.web.id/pengelolaan-sampahantara-berkah-dan-musibah/). Jakarta sebagai kota metropolitan juga memiliki permasalahan persampahan yang diantaranya adalah meningkatnya jumlah produksi sampah tiap tahunnya dan buruknya manajemen pengelolaan sampah. Produksi sampah di DKI Jakarta pada tahun 2015 ini adalah sebesar 6000-7500 ton per hari. Jumlah ini sangat besar mengingat dalam kontrak kerjasama pengelolaan sampah dengan TPA Bantar Gebang, pada tahun 2015 Jakarta ditargetkan hanya akan membuang sampah di TPA Bantar Gebang sebesar 3000 ton/hari karena sisa sampah akan diolah dengan incinerator. Jika terus dibiarkan, maka tumpukan sampah akan terus menggunung di TPA Bantar Gebang melebihi kapasitasnya sehingga dikhawatirkan akan mengalami permasalahan yang sama dengan TPA Leuwi Gajah, dimana sampah yang menumpuk tinggi menyebabkanKORBAN jiwa.

Apa yang bisa dilakukan?

Permasalahan persampahan di Kota Jakarta, juga kota-kota lain di Indonesia tidak lagi bisa ditangani secara konvensional, perlu pendekatan yang inovatif dan kreatif dalam rangka pengelolaan dan pengolahan persampahan perkotaan. Selain inovatif, pengelolaan sampah juga harus dilakukan secara efektif dan efisien. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka selayaknya kota-kota Indonesia harus bisa menggunakan cara-cara yang cerdas dalam mengelola setiap permasalahan perkotaan. Berdasarkan definisi, Smart City adalah sebuah konsep kota cerdas/pintar yang membantu masyarakat yang berada didalamnya mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat/lembaga dalam melakukan keiatannya ataupun mengantisipasi kejadian yang tidak terduga sebelumnya (Idwebdata dalam Supangkat 2015). Seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone ataupun penggunaan internet oleh masyarakat, maka seharusnya teknologi tersebut bisa dimanfaatkan secaraOPTIMAL untuk menangani permasalahan perkotaan khususnya permasalahan persampahan. Teknologi informasi dapat digunakan untuk menyediakan informasi pengelolaan sampah ataupun informasi mengenai pengelolaan persampahan rumah tangga ataupun informasi mengenai gaya hidup ramah lingkungan dan hemat sampah. Penyedia layanan persampahan tidak hanya bisa disediakan oleh pemerintah. Individu ataupun swasta juga bisa saling berkompetisi untuk memberikan layanan pengelolaan persampahan yang terbaik bagi masyarakat. Gaya hidup kaum perkotaan yang ramah lingkungan dan hemat sampah juga bisa disosialisasikan untuk mengurangi produksi sampah secara individu, rumah tangga, maupun industri.

Practice : Pengelolaan Persampahan di Bengaluru, India

Salah satu kota yang memiliki inisiatif pengelolaan sampah yang baik adalah di Bengaluru, India. Bengaluru adalah ibu kota dan kota terbesar di negara bagian India Karnataka. Kota ini juga disebut “Kota Taman” karena taman-taman, bunga, dan pepohonannya yang indah. Bengaluru merupakan kota terbesar ketiga dan metropolitan terbesar kelima, dengan populasi pada 2001 sebesar 6,5 juta. Sebelum 1 November 2014, nama kota ini adalah Bangalore. Perubahan nama diajukan sejak 1 November 2006, bersama-sama dengan 10 kota lain di Karnataka. Inisiasi pengelolaan persampahan ini dilakukan oleh organisasi independent yang tanggap terhadap permasalahan persampahan di Kota Bengaluru. Pengelolaan sampah ini tidak hanya membantu pengelolaan sampah oleh pemerintah, tetapi juga bisa memberikan nilai edukasi terhadap masyarakat dalam pemilahan sampah, serta memberikan lapangan pekerjaan yang layak kepada para pemulung dengan menjadi pengambil sampah resmi atau disini disebut sebagai “Ragpicker”. Organisasi ini membuatPLATFORM IT berupa website bernama “I Got Garbage” yang berfungsi untuk menjembatani komunikasi antara pengelola persampahan dengan masyarakat.

Awalnya I got garbage dibentuk untuk meningkatkan kualitas hidup para pemulung dengan menciptakan lapangan kerja yang lebih layak dan sekaligus membantu menangani permasalahan sampah perkotaan dengan mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Dari awal berdiri sampai sekarang, I got garbage telah melibatkan sekitar 5251 ragpicker (pemulung) dan 2350 tons sampah yang telah diolah. Website ini dibuat secara interaktif dengan tujuan agar masyarakat Bengaluru dapat berperan aktif dalam pengelolaan sampah, maupun usaha pengurangan sampah di lingkungannya.

1431768782602885064

Tampilan website I Got Garbage (sumber : http://www.igotgarbage.com)

Dalam website ‘I Got Garbage”, organisasi penyedia jasa pengelolaan persampahan ini menawarkan jasa pengangkutan sampah bagi perumahan,APARTEMENT, ataupun perkantoran. Jika seseorang ingin sampahnya dikelola oleh I got Garbage, maka I Got Garbagemenyediakan sarana edukasi pemilahan sampah di rumah, jadi masyarakat diajarkan secara mandiri memilahkan sampahnya di rumah sebelum diangkut oleh I got garbage. I got Garbage juga menyediakan jasa mempekerjakan seorang pemulung sebagai pengangkut sampah di lingkungan apartemen maupun perkantoran yang menginginkan I got garbage untuk mengelola sampah mereka. Untuk tergabung dalam I got garbage, masyarakat perlu untuk registrasi dalam website I Got garbageterlebih dahulu, dan setelah itu mereka dapat memilih pilihan sesuai kebutuhan. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan terlibat aktif sebagai waste auditor, pengangkut truk sampah, atau mengikuti proses pengolahan sampah selama sehari di I got Garbage centre. Selain itu, masyarakat juga dapat menghitung produksi sampah harian mereka dan mengetahui upaya-upaya untuk mengurangi produksi sampah harian.

1431769037367064969

Skema Kerja I Got Garbage (sumber : http://www.igotgarbage.com)

BEST Practice : Penerapan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Masyarakat perkotaan juga harusnya mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan dan hemat sampah dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk mengurangi produksi harian sampah di perkotaan. Mengingat 48 % sampah perkotaan berasal dari sampah rumah tangga, maka seharusnya masyarakat perkotaan sudah mulai untuk mengubah gaya hidupnya menjadi ramah lingkungan. Hidup ramah lingkungan pada dasarnya merupakan penerapan dari keberlanjutan atas keputusan dan pilihan gaya hidup (sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Hidup_ramah_lingkungan). Oleh karena itu diperlukan kesadaran individu dan juga contoh keberhasilan dari orang lain untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan tanpa sampah. Sebagai masyarakat cerdas yang tinggal perkotaan, informasi mengenai gaya hidup ramah lingkungan dapat didapatkan secara mudah dengan mengetik keywords gaya hidup ramah lingkungan di internet atau mencari tips mengenai gaya hidup ramah lingkungan dari orang yang telah berhasil menerapkannya dan kemudian mereka membagi tips dan triksnya dari website atau blog.

Salah satu orang yang berhasil menerapkan gaya hidup ramah lingkungan adalah Bea Johnson. Bea Johnson sudah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan bebas sampah di keluarganya dari tahun 2008 dan menulis buku mengenai Zero Waste Lifestyle yang telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Gaya hidup bebas sampah yang telah dia terapkan telah mengubah kehidupannya dan keluarganya menjadi lebih baik dimana dalam sebulan dia dan keluarganya hanya menghasilkan sampah sebanyak 1 toples dalam 1 tahun. Dalam websitenya www.zerowastehome.com dia membagikan 100 tips gaya hidup bebas sampah yang dapat dimulai dari keluarga. Selain website, Bea Johnson juga membagian pengalaman gaya hidup bebas sampahnya juga lewat instagram dan juga buku yang Ia tulis. Dia membagikan tips gaya hidup bebas sampah yang bisa dimulai dari dapur, kamar mandi, laundry dan cleaning, tempat makan, kantor, dan lain sebagainya.

1431769101479981240

Sampah yang Dihasilkan oleh Keluarga Bea Johnson pada Tahun 2014 (sumber : http://www.zerowastehome.com)

Prinsip yang diajarkan oleh Bea Johnson dalam memulai gaya hidup bebas sampah adalah sebagai berikut (disadur dari majalah Martha Stewart Living edisi Indonesia) :

1. Mulai Dari yang Kecil

Transformasi tidak akan terjadi begitu saja, jika kita tidak mulai sedikit demi sedikit. Biasakan untuk membawa kantong belanja yang bisa dipakai berulang jika berbelanja untuk meminimalisir pemakaian kantong plastik, dan membawa tempat toples sendiri ketika ingin membeli daging, ayam, atau ikan.

2. Kalau ada dua, buang atau donasikan

Jika ada barang dirumah yang sama dan tidak terpakai lebih baik barang tersebut dibuang atau didonasikan kepada orang yang membutuhkan,

3. Tidak Perlu ikut Tren

Tidak perlu terus membeli pakaian setiap waktu, setiap anggota keluarga hanya perlu memiliki pakaian dasar yang bisa dipadu padankan untuk pemakaian sehari-hari, dan jika membeli satu pakaian baru, maka satu pakaian lama bisa di donasikan kepada yanng membutuhkan.

Bea Johnson mengungkapkan bahwa ketika kita tidak memiliki banyak barang, sangat mudah untuk hidup lebih teratur karena waktu tidak terbuang percuma untuk merapikan atau membersihkan barang-barang tersebut. Gaya hidup bebas sampah sekaligus juga dapat membantu masyarakat perkotaan untuk keluar jerat konsumerisme yang menyebabkan orang membeli barang-barang yang kurang berguna untuk hidupnya.

Lesson Learned

Permasalahan persampahan perkotaan di Indonesia atau khususnya Jakarta merupakan permasalahan yang membutuhkan penanganan yang tepat karena produksi sampah yang terus meningkat setiap tahunnya, sedangkan luasan land fill atau tempat pembuangan sampah sangat terbatas. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan permasalahan mutlak diperlukan karena permasalahan persampahan merupakan masalah bersama antaa pemerintah dan masyarakat. Dalam kaitannya dengan Smart City, pemerintah perlu membuka informasi tentang permasalahan persampahan melalui media internet, dan membuka peluang yang luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam permasalahan persampahan.

Berdasarkan BEST practice yang telah dikemukakan, maka peran masyarakat disini dapat berperan sebagai jasa pengelola persampahan perkotaan dengan mengikuti konsep pengelolaan persampahan ataupun mengubah gaya hidup mereka menjadi gaya hidup ramah lingkungan dan bebas sampah di lingkungan keluarganya. Tugas pemerintah adalah sebagai pemberi informasi dan sosialisasi terhadap usaha-usaha pengelolaan sampah perkotaan dan menjadi mitra kerja bagi masyarakat yang ingin mengelola dan mengolah persampahan. Keunggulan teknologi yang berupa jaringan internet, smartphone, website, aplikasi smartphone, bisa dimanfaatkan secaraOPTIMAL untuk membantu pengelolaan persampahan di perkotaan.

Sumber :

www.igotgarbage.com

www.zerowastehome.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Hidup_ramah_lingkungan

Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang Bekasi Terbakar

Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang Bekasi Terbakar

By

on 11 Sep 2015 at 21:55 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, terbakar. Asap membumbung tinggi di lokasi milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang luasnya mencapai 50 hektare ini.

Seorang warga, Karmin (35) mengatakan, api tiba-tiba langsung membesar dan membakar lokasi zona 3 TPST Bantar Gebang. Warga langsung panik dan melaporkan kepada pihak pengelola.

“Pada saat kejadian di lokasi itu tidak ada pemulung dan hanya tumpukan sampah-sampah yang sudah overload,” kata Karmin kepada Liputan6.com di lokasi, Jumat (11/9/2015).

Dia menambahkan, sumber api kebakaran belum dapat dipastikan berasal dari mana. Namun api diduga berasal dari bawah tumpukan sampah.

Lurah Sumur Batu, Taufik mengatakan, lahan yang terbakar itu adalah milik Pemprov DKI. Api mudah dan cepat terbakar lantaran sampah telah dipenuhi fermentasi gas.

“Yang terbakar ini adalah zona 3 atau yang dikenal Zona Kepala Burung. Luasnya mencapai sekitar 50 hektare. Api susah dipadamkan, karena lahan ini adalah tempat untuk memproduksi pembangkit metana, yang nantinya akan dialiri ke pipa-pipa,” kata Taufik di lokasi.

Taufik belum dapat memastikan soal penyebab dan dari mana api berasal. Namun wilayah ini memang dipenuhi zat yang dapat terbakar. Lahan sampah ini milik pemerintah DKI Jakarta,” jelas Taufik.

Pantuan Liputan6.com, ada 8 mobil pemadam kebakaran dari Kota Bekasi diterjunkan. Petugas tampak kewalahan lantaran lahan yang hendak dipadamkan cukup luas. Asap menghitam di langit. Bahkan hingga pukul 21.10 WIB, api masih berkobar.

Belum ada keterangan dari pihak pengelola TPST Bantar Gebang. Kasusnya kini ditangani petugas kepolisian Polsek Bantar Gebang dan Polresta Bekasi Kota. (Ali/Rmn)

Mandatory for households to separate garbage from September – Bernama

Published: 19 April 2015 4:55 PM

From September, the disposal of waste in Putrajaya, Kuala Lumpur, Malacca and Negri Sembilan will be handled by a private corporation with the power to enforce households separate their waste for recycling purpose, or face a fine if they fail to do so.
Households are urged to prepare themselves for the mandatory practice of separating garbage effective September. Solid Waste and Solid Cleansing Management Corp (SWCorp) chief executive officer Datuk Ab Rahim Md Noor said every family member should know how to do it and dispose off garbage properly.

“Waste isolation will involve the disposal of food waste for the first two days of collection every week and the third day collection is for recyclable garbage,” he told reporters after giving out prizes to winners of a 3R (Reduce Reuse Recycle) marathon run in Putrajaya today.

“A company has been appointed to collect garbage in Putrajaya, Kuala Lumpur, Pahang, Melaka, Negeri Sembilan, Kedah and Perlis. They will also observe and note down households who flout the rule,” he said.
He said notices would be issued to those who flouted the rule starting September and a maximum compound of RM1,000 would be imposed on errant households by 2016.

About 5,000 participants took part in the event, organised in conjunction with the two-day 3R carnival by SWCorp. It was part of an awareness campaign on the importance of 3R practices and looking after the cleanliness of the environment for the sake of future generations. – Bernama, April 19, 2015.

sumber : http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/mandatory-for-households-to-separate-garbage-from-september-bernama#sthash.MHfsHuNr.dpuf

Masalah Sampah di Gunung dan Taman Nasional Indonesia Mengkhawatirkan

Masalah sampah di gunung dan taman nasional Indonesia mengkhawatirkan

Image captionGunung Semeru disambangi 200 hingga 500 pendaki per hari yang masing-masing membuang sekitar 0,5 kilogram sampah.

Keindahan alam di sejumlah gunung dan taman nasional di Indonesia kini terancam rusak oleh tumpukan sampah yang dibawa para pendaki. Sejumlah pecinta alam pun berinisiatif menanggulangi masalah tersebut dengan mendirikan komunitas khusus.

Botol plastik dan bungkus plastik mi instan tampak berserakan di salah satu sudut tepian Danau Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Jawa Timur.

Sampah itu ditinggalkan begitu saja oleh para pendaki dan pengunjung gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut, tanpa ada yang berinisiatif membawanya ke tempat pembuangan di bagian bawah gunung.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki.

“Artinya, di Gunung Semeru ada sekitar 250 kilogram sampah per hari,” kata Khairunissa, humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Gunung Semeru. Sejumlah aktivis lingkungan mengatakan tumpukan sampah di taman nasional dan gunung di Indonesia menjadi panorama umum.

“Kebersihannya memprihatinkan, bahkan sudah dalam taraf mengkhawatirkan,” kata Rosek Nursahid, pegiat lingkungan dari lembaga ProFauna.

TRASHBAG COMMUNITY
Image captionPermasalahan sampah juga terjadi di Gunung Rinjani dan gunung-gunung lainnya.

Pengelolaan sampah

Berdasarkan pemantauan selama beberapa tahun terakhir, Rosek menyaksikan bagaimana kesadaran para pengunjung untuk membuang sampah di tempat yang sudah dialokasikan sangat rendah.

Dia juga menyoroti manajemen taman nasional yang ingin mengembangkan wisata dengan meningkatkan kuota pengunjung per hari, namun tidak diimbangi dengan kesiapan mengolah sampah.

“Dengan kesadaran pengunjung yang lemah ditambah sarana dan prasarana yang sangat kurang, sehingga taman nasional dan gunung-gunung kini menjadi tempat pembuangan sampah,” kata Rosek.

Terbatasnya kemampuan pengelola gunung dan taman nasional untuk menangani sampah diakui Khairunissa, humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Menurutnya, pengelola Gunung Semeru hanya memiliki anggaran menyewa truk untuk mengeluarkan sampah setiap pekan. “Nggak mungkin setiap hari, kita nggak punya anggaran untuk itu.”

Gunung Semeru juga mengandalkan empat personel untuk menjaga pintu jalur pendakian Ranupani. Bila ditambah dengan tenaga upah, ada 10 orang yang berjaga di sana.

TRASHBAG COMMUNITY
Image captionRelawan dari komunitas peduli sampah gunung menemukan beragam sampah di gunung, termasuk botol plastik buatan 1987 silam.

“Mereka harus melayani ratusan pengunjung, menjaga keamanan, lalu mengurus kebersihan. Jelas secara personel kita tidak mampu (menangani sampah),” ujarnya.

Komunitas peduli sampah gunung

Menyaksikan bagaimana keterbatasan pengelola gunung dan taman nasional, sekelompok pendaki memutuskan untuk mendirikan komunitas peduli sampah gunung atau Trashbag Community.

Didirikan pada 2011, komunitas itu kini mengklaim memiliki 2.500 personel yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.

Aksi mereka, yang dapat disaksikan di jejaring media sosial, ialah menurunkan sampah dari gunung-gunung dan taman nasional di Indonesia.

Namun, Ragil Budi Wibowo, ketua umum Trashbag Community, mengatakan aksi menurunkan sampah tersebut sejatinya adalah bagian dari demonstrasi.

“Layaknya demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta, aksi kami sebenarnya juga demonstrasi. Kami ingin membawa pesan kepada semua orang untuk tidak membuang sampah sembarangan. Hanya saja, cara kami berbeda,” kata Ragil.

Pria yang hobi mendaki itu mengaku pernah mengangkut sampah botol plastik buatan 1987 dalam kondisi utuh. Padahal, aksi pengangkutan sampah dari gunung telah dimulai para relawan bertahun-tahun lalu.

TRASHBAG COMMUNITY
Image captionBerbagai relawan, termasuk relawan dari komunitas peduli sampah gunung berupaya menurunkan sampah dari gunung-gunung dan taman nasional.

Karenanya, kata dia, aksi penurunan sampah tidak akan efektif bila tidak dibarengi dengan pemberian pemahaman dan pengawasan.

“Yang efektif adalah mencegah sampah-sampah itu berada di atas gunung. Apabila kami hanya fokus mengangkut sampah dari atas gunung, siklusnya akan berputar tanpa henti,” ujarnya.

Sri Bebassari, ahli penanganan sampah sekaligus pendiri lembaga Indonesian Solid Waste Association (InSwa), senada dengan Ragil.

Sri, yang mendalami teknik penguraian sampah plastik, mengatakan masalah sampah di Indonesia tidak pernah selesai jika diserahkan kepada para insinyur.

“Teknologi mah gampang. Kini sudah ada plastik yang bisa terurai, lalu ada daur ulang yang canggih. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah selama masyarakat Indonesia masih tidak terdidik membuang sampah dengan benar. Ahli agama, pendidikan, psikologi, komunikasi, harus kerja keras memberi pendidikan tentang membuang sampah,” tutupnya.

sumber : http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150625_indonesia_sampah_gunung