Keren! Banyuwangi resmikan kantor bank sampah dan inovasi persampahan

Keren! Banyuwangi resmikan kantor bank sampah dan inovasi persampahan

SELASA, 11 AGUSTUS 2015 | 20:57 WIB

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Pemkab Banyuwangi meresmikan Kantor Bank Sampah dan Inovasi Persampahan. Di tempat ini berbagai aktivitas terkait manajemen persampahan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pendataan, penukaran sampah, rintisan teknologi pengelolaan sampah, pembibitan tanaman, pembuatan pupuk kompos, hingga produksi produk ekonomi berbahan baku barang bekas.

Bupati sedang mengunjungi Bank Sampah

Aktivitas Bank Sampah Banyuwangi telah berlangsung selama ini. Hanya saja, kantornya masih belum berdiri sendiri dan belum terintegrasi dengan aktivitas manajemen persampahan lainnya.

“Sampah bukan masalah, justru sampah bisa membawa berkah. Ini kegiatan yang mulia dan luar biasa, sampah tidak hanya barang sisa yang tak berguna, tetapi bisa menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas, saat meresmikan kantor baru Bank Sampah dan Inovasi Persampahan di kawasan Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi, Selasa (11/8).

Dengan adanya bank sampah ini, lanjut Anas, masyarakat bisa semakin peduli pada sampah, membiasakan mengumpulkan sampah dan memilah sampah kering dan basah. Selain untuk mengurangi volume sampah, ini juga bisa membuat lingkungan sekitar menjadi lebih bersih dan sehat. “Sekaligus gerakan ini menjadi konsolidasi budaya hidup bersih dan sehat,€ ujarnya.

Nadia Maghriza, siswa kelas IX SMPN 5 Banyuwangi, yang selama ini rajin ikut mengelola sampah di rumahnya mengaku sangat senang karena buku tabungan Bank Sampah miliknya telah mencapai Rp 500 ribu. Dia rutin mengumpulkan sampah yang ada di rumah maupun di sekolah untuk dipilah dan ditukar menjadi uang di Bank Sampah Banyuwangi (BSB).

Dana dari Bank Sampah ini biasanya saya gunakan untuk membeli buku pengetahuan,” kata Nadia.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Arief Setiawan menambahkan, Bank Sampah Banyuwangi sebenarnya sudah berdiri sejak April 2012 lalu. Namun, kantornya masih menempati bekas rumah dinas Sekretaris Daerah. Dengan adanya kantor baru yang terintegrasi, aktivitas manajemen persampahan bisa lebih efektif.

“Bank sampah memiliki tujuan awal untuk mewujudkan Banyuwangi yang bersih dan hijau, dengan mengusahakan sampah dapat dijadikan sesuatu yang memiliki nilai ekonomis melalui inovasi pengolahan sampah terpadu lewat 3R (Reuse, Recycle, Reduce). Di tempat ini kegiatan yang dilakukan mengolah sampah menjadi barang yang bermafaat, seperti tas dari bungkus deterjen, tempat tisu, dan sampah organik dijadikan pupuk kompos, kata Arief.

Fasiltas yang ada di bank sampah sendiri antara lain, kantor pelayanan nasabah, tempat menukar sampah dengan uang, tempat memilah sampah baik organik maupun nonorganik. Selain itu, ada mesin pencacah, fasilitas kesehatan, pabrik pupuk organik/kompos, pabrik pupuk nonorganik, tempat pengolahan kerajinan sampah daur ulang atau 3R, dan tempat pembibitan.

Dalam sehari bank sampah ini mampu menerima hingga 2 ton sampah nonorganik. Sedangkan untuk sampah organik hingga 4 meter kubik yang bisa bisa diolah menjadi kompos.

Dari awal berdiri hingga saat ini bank sampah telah berkembang. Modalnya terus bertambah hingga Rp 300 juta dari modal awal Rp 3 juta. Petugas berhasil mencatat tabungan nasabah dari hasil penukaran antara Rp 500 sampai Rp 1 juta. Nasbah bank sampah hingga saat ini telah mencapai 523 nasabah dari masyarakat dan dasa wisma, dan 77 nasabah dari lembaga sekolah tingkat PAUD hingga SMA.

Istemewanya nasabah bank sampah juga bisa berobat gratis ke dokter yang menjadi mitra kerja pemerintah, yaitu dokter Bintari Wuryaningsih. Hanya dengan menujukkan buku tabungan bank sampah, nasabah bisa langsung periksa gratis ke dokter Bintari yang ada praktik di Jalan Agus Salim,” pungkas Arief. Kbc1

Iklan

Mealworms can eat an all-plastic (styrofoam) diet and not die

Mealworms can eat an all-plastic diet and not die

Margaret  Badore

Margaret Badore (@mbadore)
Science / Animals
September 30, 2015

mealworms on polystyrene

via Stanford. Photo by Yu Yang.

We all know that plastic degrades super slowly, which is why it’s such a big problem that we’re dumping millions of tons of it into landfills every year—not to mention all the stuff that just ends up as litter or floating in the ocean.

But researchers at Stanford found a way to speed up the process of breaking down Styrofoam and other types of polystyrene, with help from mealworms. It turns out, these worms can not only digest polystyrene, but can actually subsist on a diet exclusively made up of it.

Wei-Min Wu, a senior research engineer at the Department of Civil and Environmental Engineering found that mealworms, which are the larvae of the darkling beetle, have microorganisms in their digestive tracts that allow them to break down the plastic.

I know you’re probably thinking: but how toxic is the resulting worm waste? Well, according to Wu, the waste is safe to use as soil on crops. The other by-product of the process is carbon dioxide, which is the case for anything the meal worms eat. And the plastic-eating worms didn’t appear to be less healthy than worms eating a more natural diet.

The process is fairly slow. The lab found that 100 mealworms eat 34 to 39 milligrams of polystyrene per day, which is equivalent to the weight of a small pill. The findings have been published in the scientific journal Environmental Science and Technology.

The researchers hope that further study of the worms’ gut bacteria will lead to the real breakthrough for managing this type of plastic waste, which can in theory be recycled but facilities that have the capacity to do so are quite scarce.

The researchers also intend to follow the plastic-eating worms up the food chain, and study the health of animals that prey on Styrofoam-munching mealworms.

While this finding definitely falls into the nature-blow-my-mind category, I do worry about how this information will be used in the hands of the plastics industry. Of course, we should be looking for better ways of cleaning up the environmental problems that we have, but I don’t think mealworm lunch is a good justification for single-use foam cups and takeout containers.

sumber : http://www.treehugger.com/animals/mealworms-can-eat-all-plastic-diet-and-not-die.html

Mulai 2016, Truk Sampah DKI Tak Angkut Sampah Hotel

Mulai 2016, Truk Sampah DKI Tak Angkut Sampah Hotel

Dua unit truk sampah yang diberikan PT Gaya Makmur kepada Pemerintah Provinsi DKI, saat berada di Balaikota Jakarta, Selasa (20/5/2014)

Jakarta, eTrashNews (5/10/2015) – Mulai tahun depan, seluruh pengelola kawasan komersial di Jakarta diwajibkan untuk dapat mengelola sendiri sampahnya. Dengan demikian, Dinas Kebersihan DKI Jakarta tidak lagi bertanggung jawab dalam pengangkutan sampah di tempat-tempat, seperti hotel, perkantoran atau pusat perbelanjaan.

Wakil Kepala Dinas Kebersihan Ali Maulana Hakim mengatakan, bila nantinya pengelola kawasan komersial tidak bisa mengelola sampahnya sendiri, maka mereka diharuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan jasa pengelolaan sampah.

“Nanti akan kita buatkan daftar perusahaan pengangkutan sampah dengan spesifikasi khusus,” kata Ali di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/9/2015).

Ali mengatakan, bila nantinya pengelola kawasan komersial sudah dapat mengangkut sendiri sampahnya, namun pembuangannya masih dilakukan di TPST Bantar Gebang, maka mereka diwajibkan membayar retribusi ke Dinas Kebersihan.

“Silakan saja mereka melakukan kerja sama. Tapi kalau perusahaan itu masih buang sampah ke Bantar Gebang, berarti kita minta retribusi,” ujar dia.

Menurut Ali, kewajiban pengelola kawasan komersial untuk dapat mengelola sendiri sampahnya nantinya akan diatur dalam revisi Perda Nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam peraturan tersebut nantinya akan diatur mengenai dua zona kawasan pengelolaan sampah di Jakarta, masing-masing di kawasan permukiman penduduk dan kawasan komersil.

Ali menyebut, nantinya, Dinas Kebersihan hanya akan fokus dalam tugas pengelolaan sampah di kawasan permukiman. “Kita cuma fokus di permukiman. Jadi, nanti kita tidak perlu lagi nyewa truk sampah,” ucap Ali.
Penulis : Alsadad Rudi

sumber : http://asrul.org/mulai-2016-truk-sampah-dki-tak-angkut-sampah-hotel/

Converting Olive Mash into Bio Cash

Converting Olive Mash into Bio Cash

January 27, 2015

An experimental system to create heat and power with waste from olive oil processing is up-and-running in Spain. Carina Lagergren, a researcher from Sweden’s KTH Royal Institute of Technology, says the system shows a promising way forward for reducing environmental damage and converting organic waste to energy.

Fuel cell technology was the main attraction for the first-ever visit by a U.S. president to KTH in 2013, and one of the projects presented to President Barack Obama at the university was a process to convert waste from olive oil production to energy for fuel cells.

Olives are loaded into the olive oil processing facility operated by Cooperativa San Isidro de Loja, Granada. Credit: Carina Lagergren

The project reached its conclusion toward the end of 2014, and today a small-scale prototype system is fully-operational in an olive oil production facility operated by cooperative of San Isidro de Loja, Granada. The electricity it produces is used to help power the plant.

“I remember the President was very curious,” recalls Carina Lagergren, the research leader in applied electrochemistry who presented the project concept to Obama. “He asked, ‘If my friend — a farmer — wants to buy this system to produce electricity from waste on his farm, is it worth it?’ And, I told him it’s not, for the moment, because it’s such a new thing. You cannot buy this and expect that you can save a lot of money.”

“But in the future we hope it will,” she says.

It is currently a 1-kW system, and the project partners — which included PowerCell Sweden AB — are planning to apply for funding to scale the operation up to create 200-kW systems, or enough to supply 50 percent of the processing plant’s energy needs, she says.

“But for this project, the most important thing was finding a solution for all of the toxic waste left over from olive oil production” she says.

Converting the waste to heat and power is a three-part process, beginning with a digester tank that breaks the material down and releases bio gas, comprised of methane, carbon dioxide and sulfur compounds, to a reformer. The reformer converts the bio gas into carbon dioxide and hydrogen, which can then be converted in the fuel cells. When oxygen is introduced in the cell, it mixes with the hydrogen and CO2 to create heat and electricity.

The process depletes the toxicity of the waste and what’s left can safely be transferred to landfill.

“The idea behind the project is to show that it is possible to connect these processes together — starting with olive oil waste — and end up with electrical energy,” she says.

Doing so is a much more sustainable alternative to the current process. After olives are milled and their oil is drawn, the waste containing pesticides and toxic organic compounds is dumped into sludge pits, where it introduces toxins to the surrounding environment.

So PowerCell, KTH and others joined forces to find a better way. For this project PowerCell called on KTH to analyze the influence of impurities of the biogas on their fuel cells.

“We fed the cells with the contaminants that are found in the fuel from the olive oil, or from the environment where the fuel cells  operate, such as hydrogen sulfide and ammonia” Lagergren says.

The KTH researchers also looked into how the impurities affect the fuel cells. “Is it the electrode that suffers, or the electrolyte or the platinum itself, the carbon or the polymer?” she explains.

Lagergren says the answers will help the company define steps for cleaning the gas, and it also provides knowledge of the specifications of the fuel cells for those who are working with the technology.

While the technology is still costly for converting olive mash into cash, fuel cells in general offer a promising alternative source of electrical energy. Molten carbonate cells, for example, already are used for very large systems.

On KTH’s end, Lagergren says the work toward a better fuel cell continues with a focus on bringing down the cost and increasing the efficiency. She is also involved in a project, with Lund and Chalmers universities, to find alternatives to the precious metals that are used as catalysts today in many kinds fuel cells.

“There are other ways to decrease the cost, such as work with the electrolytes. We try to do small improvements with the different components,” she says.

sumber : http://www.renewableenergyworld.com/articles/2015/01/converting-olive-mash-into-bio-cash.html

Pemkot Tangsel Disebut tak Melakukan Pengolahan Sampah

Pemkot Tangsel Disebut tak Melakukan Pengolahan Sampah

Selasa, 18 Agustus 2015, 20:16 WIB

Gunungan sampah di Pasar Ciputat Tangsel
Gunungan sampah di Pasar Ciputat Tangsel

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) dinilai belum memiliki keseriusan untuk mengatasi persoalan sampah. Hal tersebut diindikasikan dengan masih diterapkannya sistem yang sudah usang untuk mengurus sampah kota.

“Selama Pemkot Tangsel tidak menggunakan sistem pengolahan sampah yang berbasis kepada teknologi, maka masalah sampah di kota ini tak akan pernah tuntas,” kata Ketua Pusat Kajian Persampahan Indonesia (PKPI),   Sodiq Suhardianto saat dihubungi Republika, Selasa (19/8).

Sodiq mengatakan, selama ini dalam mengurus sampah kota, Pemkot Tangsel masih menggunakan sistem sanitary landfill. Di mana, sistem ini cenderung hanya menumpuk sampah di suatu lahan bernama Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.

Dengan sistem ini, sampah hanya ditumpuk terus menerus dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Air tanah menjadi tercemar dan memunculkan polusi udara karena bau tak sedap.

Selain itu, sistem ini jika digunakan dengan benar pun masih harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Apalagi, jika dilakukan dengan tidak benar.

“Cara seperti ini sungguh sudah sangat usang. Di negara-negara maju seperti di eropa, sistem sanitary landfill sudah dilarang sejak 1996 lalu,” kata Sodiq.

Sodiq mengatakan, cara yang benar saat ini dalam mengurus sampah adalah dengan cara mengolahnya. Di mana, hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menyebut bahwa setiap kepala daerah baik itu bupati atau wali kota wajib mengolah sampah.

“Nah sistem sanitary landfill ini bukan mengolah, tapi menumpuk. Jadi selama ini wali kotanya tak menjalankan amanat undang-undang,” kata Sodiq.

Menurut dia, ada dua cara dalam pengolahan sampah berbasis teknologi.  Yakni, sistem thermal yang menggunakan sistem pembakaran atau biogas yang bias diambil gasnya untuk energi dan pupuk.

“Nah dari dulu Pemkot Tangsel sudah disarankan menggunakan teknologi itu untuk mengurus sampah. Tapi tak pernah didengar dan tidak pernah beralih dari cara yang sekarang ini,” kata Sodiq.

Sebelumnya diberitakan, sampah masih menjadi masalah bagi Kota Tangsel. Hal tersebut terlihat dari tidak maksimalnya TPA Cipeucang yang merupakan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel untuk menampung sampah kota.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Tangerang Selatan, Yepi Suherman, mengatakan, TPA Cipeucang sudah penuh. Bahkan, TPA yang berlokasi di Kecamatan Setu tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan satu tahun ke depan dari sekarang. “Sudah penuh,” kata Yepi akhir pekan lalu.

Menurut Yepi,  daya tampung TPA Cipeucang yang berada di Kecamatan Setu tersebut sangat terbatas untuk menampung sampah dari tujuh kecamatan yang ada Tangsel. “Sepertinya tak mampu menampung sampah yang begitu banyak,”katanya.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/08/18/nta4w1326-pemkot-tangsel-disebut-tak-melakukan-pengolahan-sampah