Kantong Plastik Berbayar Dicoba

Kota-kota Lain Diminta Kurangi Sampah Plastik

JAKARTA, KOMPAS — Rencana uji coba kantong plastik berbayar di ritel-ritel modern tak menutup pintu bagi kota-kota lain yang belum sempat bergabung untuk berpartisipasi. Program yang bertujuan mengurangi sampah plastik ini diharapkan menjadi bagian dari gerakan sosial masyarakat untuk mengubah perilaku boros plastik.

Guru dan pelajar  SMP Negeri 4 Surabaya mengampanyekan bahaya penggunaan tas keresek bagi lingkungan   kepada  warga yang melintas di Jalan Darmo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/2/2015). Mereka kemudian mengganti tas keresek yang dibawa warga dengan tas kain sehingga dapat dipakai berulang kali. Penelitian menunjukkan, tas keresek dan sampah plastik butuh ratusan  tahun untuk terurai.
KOMPAS/HERPIN DEWANTO PUTROGuru dan pelajar SMP Negeri 4 Surabaya mengampanyekan bahaya penggunaan tas keresek bagi lingkungan kepada warga yang melintas di Jalan Darmo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/2/2015). Mereka kemudian mengganti tas keresek yang dibawa warga dengan tas kain sehingga dapat dipakai berulang kali. Penelitian menunjukkan, tas keresek dan sampah plastik butuh ratusan tahun untuk terurai.

Selama ini, kantong plastik dari peritel umumnya hanya dipakai sekali. Setelah itu berakhir di tempat sampah hingga membebani tempat pembuangan akhir sampah. Sifat plastik yang sulit terurai membuat TPA terus haus lahan dan menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan lingkungan.

“Dukungan kota-kota lain pasti sangat diperlukan. Nantinya ini berlaku nasional,” kata Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) R Sudirman, Jumat (22/1) di Jakarta.

content

Hingga kini sudah 22 kota yang menyatakan dukungan kepada program ini. Para wali kota dan perwakilan pemerintah kota ini diundang KLHK untuk menjadi daerah uji coba penerapan kantong plastik berbayar.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, pihaknya mendukung kegiatan pembatasan sampah plastik yang dimulai dari mal dan supermarket. “Kami akan bentuk tim khusus untuk percepatan kegiatan pembatasan kantong plastik di Banda Aceh,” katanya.

Memperingati  Hari Bebas Tas Keresek Sedunia, Aktivis Nol Sampah mengajak pengunjung menukarkan tas plastik dengan tas kain di Royal Plaza, Surabaya, Kamis (3/7/2014). Dalam aksi tersebut mereka mengajak masyarakat untuk tidak lagi menggunakan tas plastik karena plastik sulit terurai sehingga merusak lingkungan. Bulan depan pemerintah memulai program pembatasan kantong plastik di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia.
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTAMemperingati Hari Bebas Tas Keresek Sedunia, Aktivis Nol Sampah mengajak pengunjung menukarkan tas plastik dengan tas kain di Royal Plaza, Surabaya, Kamis (3/7/2014). Dalam aksi tersebut mereka mengajak masyarakat untuk tidak lagi menggunakan tas plastik karena plastik sulit terurai sehingga merusak lingkungan. Bulan depan pemerintah memulai program pembatasan kantong plastik di sejumlah kota/kabupaten di Indonesia.

Menurut dia, di Aceh sudah terbentuk Komunitas Hijau yang melakukan aksi bersih-bersih di kota tersebut. Komunitas itu melakukan pertemuan sebulan sekali dengan pemerintah daerah. Dari kegiatan itu Illiza menyadari pentingnya pelestarian lingkungan, termasuk pembatasan plastik.

Program yang akan dimulai 21 Februari 2016, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional, ini akan dilaksanakan hingga 5 Juni 2016. Setelah uji coba selesai, program dievaluasi pada tiap-tiap kota untuk mencari bentuk sistem di tingkat nasional.

Sudirman mengatakan, pihaknya mengusulkan pelanggan ritel yang masih menghendaki kantong plastik dipungut Rp 500 per keresek. Namun, pungutan ini dinilai terlalu murah dan tak efektif mengubah perilaku konsumen yang selama ini dimanja peritel dengan kantong plastik gratis.

Terkait penggunaan dana Rp 500 ini, pihaknya memiliki pandangan Rp 200 dikembalikan kepada konsumen yang mengembalikan kantong plastik ke ritel dan Rp 300 digunakan peritel untuk kegiatan lingkungan bersama pemerintah daerah atau dikelola Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik yang sejak 10 tahun lalu mengadvokasi isu sampah.

sumber : http://print.kompas.com/baca/2016/01/22/Kota-kota-Lain-Diminta-Kurangi-Sampah-Plastik

Iklan

VIDEO: Hong Kong Aims to Cut Waste & Boost Recycling

According to the Bureau, an average person in Hong Kong disposes of about 1.3 kg of waste every day, totaling over 9000 tonnes per day overall.

The HKSAR Government has set a target to reduce waste generation drastically. Its plan to achieve this relies on a sustainable waste management system and a rigorous strategy.

The Bureau said that it will also strengthen recycling programmes and aims to encourage everyone to participate through its Community Green Station hubs that it is rolling out in each of the 18 districts.

It added that it will create economic incentives to further reduce waste at its source with the goal of minimising the use of landfills and turning waste into a resource.

 

The video can be viewed below.

sumber : http://waste-management-world.com/a/video-hong-kong-aims-to-cut-waste-boost-recycling

Harvest Power Sells 6 MW Anaerobic Digestion Biogas Plant in Ontario

Harvest Power Sells 6 MW Anaerobic Digestion Biogas Plant in Ontario

StormFisher Environmental has acquired the London Energy Garden, an anaerobic digester which processes organic waste from southwestern Ontario into biogas and natural fertilisers, from Harvest Ontario Partners – a part of Waltham, Massachusetts based AD developer, Harvest Power.

In Ontario, Canada StormFisher Environmental has acquired the London Energy Garden, an anaerobic digester which processes organic waste from southwestern Ontario into biogas and natural fertilisers, from Harvest Ontario Partners – a part of Waltham, Massachusetts based AD developer, Harvest Power.
harvest-london-site
The facility, which was developed by Harvest Power, turns organic materials such as food scraps, food production residuals, fats oils and grease, and other discarded organic waste from food processors, retailers and food retail outlets into biogas which is used to generate electricity, as well as fertilisers.

StormFisher Environmental is majority owned and operated by StormFisher, Ltd, a company said to have deep Ontario market knowledge and biogas experience. Harvest Power is a minority owner in StormFisher Environmental.

The facility started operations in spring 2013, has a capacity: 70,000 tonnes per year and generates approximately 6 MW combined heat and power as well as 5200 tonnes of granular fertiliser.

“We are excited to invest new capital and enhance operations at the London Energy Garden,” commented Chris Guillon, vice president of StormFisher Environmental. “These developments open up even more opportunities to serve the organic waste processing needs of the region.”

According to Chris Kasper, CEO of Harvest Power, the facility is in good hands. He added, “Their team was involved in the original design of the site, so it’s fitting to see their involvement come full circle,” he commented.

source: http://waste-management-world.com/a/harvest-power-sells-6-mw-anaerobic-digestion-biogas-plant-in-ontario

Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

3 March, 2015

Sampah, umumnya diartikan sebagai barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sampah juga dimaknai sebagai material sisa, baik dari hewan, manusia, maupun tumbuhan yang tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padat, cair ataupun gas. Sampah, banyak jenisnya dan disesuaikan berdasarkan sumber, sifat, bentuk atau asal sampah. Sampah ketika dilepaskan dalam fase cair atau gas dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.

sampah

kredit:

Pada kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Sampah jenis lain yang biasanya menjadi perhatian manusia adalah sampah konsumsi. Sampah konsumsi adalah sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang atau sampah yang dibuang ke tempat sampah. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

Pada tahun 2012, Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Sampah tersebut termasuk dari sampah organik dan anorganik. Apapun tentang sampah tentu tidak dapat diabaikan karena dapat mengganggu kesehatan lingkungan dan estetika wilayah. Apalagi terdapat data yang menyatakan, volume sampah di Indonesia sekitar 1 juta meter kubik per hari, namun baru 42% di antaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak diangkut setiap harinya sekitar 348.000 meter kubik atau sekitar 300.000 ton.

Hingga saat ini persoalan sampah masih banyak ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Sedemikian masifnya, sampah dapat ditemukan di jalanan, selokan, sungai, dan bahkan daerah pantai. Slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” menjadi sekedar slogan yang tak lagi memiliki makna. Padahal sampah dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Sampah yang menumpuk tanpa adanya pengelolaan yang benar dapat menimbulkan berbagai penyakit dan menghasilkan zat kimia berbahaya. Sampah yang menumpuk di selokan dan sungai juga menyebabkan terjadinya banjir yang kerap menjadi bencana rutin di Tanah Air. Sampah masih dianggap sebagai persoalan sepele bagi masyarakat. Rasa ketidakpedulian itu pun akhirnya berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Tragedi Leuwigajah

Tahukah Anda bahwa tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional?
Ya, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ditetapkan guna mengenang tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Jawa Barat 21 Februari 2005 yang merenggut setidaknya 150 jiwa.
Tanggal 21 Februari 2005 dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai tiga meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan Tragedi ini kemudian dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Tentu, maksud pencanangan ini agar semua pihak peduli dengan masalah pengelolaan sampah. Hal lain yang memprihatinkan dari masalah sampah di Indonesia adalah sampah dalam bentuk plastik.

Indonesia menempati urutan kedua, setelah Tiongkok, untuk soal sampah plastik. Produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 5,4 juta ton per tahun (Antaranews, 2014). Plastik merupakan bahan yang sulit terurai sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang cukup serius. “Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari, di Jakarta.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik.

Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Edo Rahman mengatakan penanganan dan pengelolaan sampah oleh pemerintah belum sepenuhnya berjalan dengan maksimal.
“Kebijakan sampah belum menyentuh sasaran tepat. Harus ada strategi lain yang harus dikembangkan oleh pemerintah,” kata Edo Rahman dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Sabtu 10 Januari 2015.

Sebelum pemerintah membuat regulasi tentang sampah plastik, ada dua sasaran yang patut menjadi perhatian masyarakat. Pertama, masyarakat. Pemerintah harus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengurangi produk-produk yang berujung penggunaan sampah plastik.
Kedua, adalah perusahaan. Pemerintah harus meminta perusahaan yang menggunakan produk-produk plastik harus bertanggung jawab.

“Plastik tanpa kita sadari sudah menjadi bagian rutin dari keseharian kita, namun masyarakat masih tak sadar akan dampak dari penggunaan plastik yang berlebihan,” kata Nyoman Iswarayoga, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF-Indonesia. “Selain sulit terurai secara alami, plastik juga memiliki potensi dampak terhadap kesehatan manusia bila dibakar secara bebas, maupun terhadap satwa-satwa liar. Mari mulai dari diri kita sendiri, kurangi penggunaan plastik dari sekarang.”, tambahnya.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik. Walaupun hal kecil, namun upaya ini cukup efektif untuk mengurangi sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.

Menggunakan botol minuman yang dapat dipakai berkali-kali
Dengan menggunakan botol minuman yang bisa dipakai berkali-kali, kita bisa mengisi ulang air minum kita tanpa harus mengeluarkan uang setiap hari untuk membeli botol minuman kemasan. Selain lebih hemat, cara ini juga cukup efektif untuk mengurangi jumlah sampah plastik.

Membawa Tas atau Keranjang untuk Berbelanja
Dengan membawa tas belanja sendiri, penggunaan kantong plastik akan berkurang. Namun apabila terpaksa harus menggunakan kantong plastic, disarankan untuk memakai plastik yang biodagredable atau yang mudah terurai, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa retail.
Salah satu pasar swalayan terbesar di Indonesia pun telah menjual tas daur ulang yang terbuat dari bahan karung beras plastik yang kuat dan tahan lama. Bahkan, jika tas itu rusak, pelanggan dapat menukarnya dan mendapatkan yang baru secara gratis.

Kurangi membeli barang kemasan
Sisa kemasan merupakan sampah yang paling sering ditemui. Usahakan jangan membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah. Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca.

Selain hal-hal tersebut, edukasi mengenai keharusan untuk membuang sampah pada tempatnya harus tetap dilakukan kepada masyarakat. Kegiatan edukasi ini pun harus mampu untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya dimanapun dia berada.

Tanggal 21 Februari diharapkan tidak hanya menjadi momentum peringatan semata, namun mampu menjadi penggerak bagi seluruh masyarakat untuk mulai peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan penanganan sampah bukan hanya tugas dari pemerintah, aktivis lingkungan atau petugas kebersihan saja, namun tugas dari seluruh masyarakat yang turut menghasilkan sampah dalam aktivitas kesehariannya.

(Setper-3/3)

sumber : http://www.antara.net.id/index.php/2015/03/03/indonesia-perlu-kerja-keras-tangani-sampah/id/