Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

3 March, 2015

Sampah, umumnya diartikan sebagai barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sampah juga dimaknai sebagai material sisa, baik dari hewan, manusia, maupun tumbuhan yang tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padat, cair ataupun gas. Sampah, banyak jenisnya dan disesuaikan berdasarkan sumber, sifat, bentuk atau asal sampah. Sampah ketika dilepaskan dalam fase cair atau gas dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.

sampah

kredit:

Pada kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Sampah jenis lain yang biasanya menjadi perhatian manusia adalah sampah konsumsi. Sampah konsumsi adalah sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang atau sampah yang dibuang ke tempat sampah. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

Pada tahun 2012, Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Sampah tersebut termasuk dari sampah organik dan anorganik. Apapun tentang sampah tentu tidak dapat diabaikan karena dapat mengganggu kesehatan lingkungan dan estetika wilayah. Apalagi terdapat data yang menyatakan, volume sampah di Indonesia sekitar 1 juta meter kubik per hari, namun baru 42% di antaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak diangkut setiap harinya sekitar 348.000 meter kubik atau sekitar 300.000 ton.

Hingga saat ini persoalan sampah masih banyak ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Sedemikian masifnya, sampah dapat ditemukan di jalanan, selokan, sungai, dan bahkan daerah pantai. Slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” menjadi sekedar slogan yang tak lagi memiliki makna. Padahal sampah dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Sampah yang menumpuk tanpa adanya pengelolaan yang benar dapat menimbulkan berbagai penyakit dan menghasilkan zat kimia berbahaya. Sampah yang menumpuk di selokan dan sungai juga menyebabkan terjadinya banjir yang kerap menjadi bencana rutin di Tanah Air. Sampah masih dianggap sebagai persoalan sepele bagi masyarakat. Rasa ketidakpedulian itu pun akhirnya berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Tragedi Leuwigajah

Tahukah Anda bahwa tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional?
Ya, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ditetapkan guna mengenang tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Jawa Barat 21 Februari 2005 yang merenggut setidaknya 150 jiwa.
Tanggal 21 Februari 2005 dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai tiga meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan Tragedi ini kemudian dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Tentu, maksud pencanangan ini agar semua pihak peduli dengan masalah pengelolaan sampah. Hal lain yang memprihatinkan dari masalah sampah di Indonesia adalah sampah dalam bentuk plastik.

Indonesia menempati urutan kedua, setelah Tiongkok, untuk soal sampah plastik. Produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 5,4 juta ton per tahun (Antaranews, 2014). Plastik merupakan bahan yang sulit terurai sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang cukup serius. “Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari, di Jakarta.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik.

Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Edo Rahman mengatakan penanganan dan pengelolaan sampah oleh pemerintah belum sepenuhnya berjalan dengan maksimal.
“Kebijakan sampah belum menyentuh sasaran tepat. Harus ada strategi lain yang harus dikembangkan oleh pemerintah,” kata Edo Rahman dalam perbincangan bersama Radio Republik Indonesia, Sabtu 10 Januari 2015.

Sebelum pemerintah membuat regulasi tentang sampah plastik, ada dua sasaran yang patut menjadi perhatian masyarakat. Pertama, masyarakat. Pemerintah harus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengurangi produk-produk yang berujung penggunaan sampah plastik.
Kedua, adalah perusahaan. Pemerintah harus meminta perusahaan yang menggunakan produk-produk plastik harus bertanggung jawab.

“Plastik tanpa kita sadari sudah menjadi bagian rutin dari keseharian kita, namun masyarakat masih tak sadar akan dampak dari penggunaan plastik yang berlebihan,” kata Nyoman Iswarayoga, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF-Indonesia. “Selain sulit terurai secara alami, plastik juga memiliki potensi dampak terhadap kesehatan manusia bila dibakar secara bebas, maupun terhadap satwa-satwa liar. Mari mulai dari diri kita sendiri, kurangi penggunaan plastik dari sekarang.”, tambahnya.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik. Walaupun hal kecil, namun upaya ini cukup efektif untuk mengurangi sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.

Menggunakan botol minuman yang dapat dipakai berkali-kali
Dengan menggunakan botol minuman yang bisa dipakai berkali-kali, kita bisa mengisi ulang air minum kita tanpa harus mengeluarkan uang setiap hari untuk membeli botol minuman kemasan. Selain lebih hemat, cara ini juga cukup efektif untuk mengurangi jumlah sampah plastik.

Membawa Tas atau Keranjang untuk Berbelanja
Dengan membawa tas belanja sendiri, penggunaan kantong plastik akan berkurang. Namun apabila terpaksa harus menggunakan kantong plastic, disarankan untuk memakai plastik yang biodagredable atau yang mudah terurai, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa retail.
Salah satu pasar swalayan terbesar di Indonesia pun telah menjual tas daur ulang yang terbuat dari bahan karung beras plastik yang kuat dan tahan lama. Bahkan, jika tas itu rusak, pelanggan dapat menukarnya dan mendapatkan yang baru secara gratis.

Kurangi membeli barang kemasan
Sisa kemasan merupakan sampah yang paling sering ditemui. Usahakan jangan membeli produk dalam kemasan sachet, tapi belilah produk yang dikemas dalam ukuran besar untuk mengurangi sampah. Jika memungkinkan, pilih produk yang dikemas dalam botol kaca.

Selain hal-hal tersebut, edukasi mengenai keharusan untuk membuang sampah pada tempatnya harus tetap dilakukan kepada masyarakat. Kegiatan edukasi ini pun harus mampu untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya dimanapun dia berada.

Tanggal 21 Februari diharapkan tidak hanya menjadi momentum peringatan semata, namun mampu menjadi penggerak bagi seluruh masyarakat untuk mulai peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan penanganan sampah bukan hanya tugas dari pemerintah, aktivis lingkungan atau petugas kebersihan saja, namun tugas dari seluruh masyarakat yang turut menghasilkan sampah dalam aktivitas kesehariannya.

(Setper-3/3)

sumber : http://www.antara.net.id/index.php/2015/03/03/indonesia-perlu-kerja-keras-tangani-sampah/id/

Iklan

One thought on “Indonesia Perlu Kerja Keras Tangani Sampah

  1. Ridha Harwan 6 Januari 2016 / 20:12

    Sampah itu memang perlu dibersihkan. Apalagi sampah-sampah yang banyak bertebaran di senayan. hehehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s