Bantuan Teknis Perencanaan Pengelolaan Persampahan

Bantuan Teknis Perencanaan Pengelolaan Persampahan

bantek

download link Bantuan Teknis 2017

Iklan

Bicarakan Masalah Sampah, Kepala DLHD Akan Undang Kades dan Lurah

Jumat, 3 Februari 2017 20:06
Bicarakan Masalah Sampah, Kepala DLHD Akan Undang Kades dan Lurah
PB /Dede Suhendar
Ilustrasi – Kondisi jalan yang sampahnya berserakan di gang yang menghubungkan Jalan Ali Uyub dan Gatot Subroto, Kelurahan Tanjungpendam, Kecamatan Tanjungpandan, tepatnya di sebelah SMA Negeri 1 Tanjungpandan, Kamis (2/2/2017). Pos Belitung/Dede Suhendar

Laporan Wartawan PB, Dede Suhendar

POSBELITUNG.COM, BELITUNG — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD)Kabupaten Belitung, Ubaidillah akan mengundang kepala desa dan lurah se Kecamatan Tanjungpandan pekan depan.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk membicarakan masalah persampahan dan mencari solusi yang tepat.

Dari hasil pertemuan tersebut, kata Ubai, akan menghasilkan peta titik kebutuhan TPS hingga wilayah rawan dijadikan tempat sampah liar.

“Rencananya kami jadwalkan minggu depan, kalau tidak Rabu, Kamis. Nanti kades dan lurah akan menyampaikan saran dan kebutuhan apa saja untuk mengatasi sampah ini, apakah TPS atau tong sampah,” ujarnya kepada posbelitung.com, Jumat (3/2/2017).

Berdasarkan Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) Pemkab Belitung yang baru, masalah kebersihan menjadi wewenang DLHD.

Karena Dinas Kebersihan Pasar dan Pertamanan sudah dibubarkan.

Oleh karena itu, Ubai menilai perlunya pemetaan untuk memantau sejumlah titik yang dianggap rawan dengan sampah.

Sumber : http://belitung.tribunnews.com/2017/02/03/bicarakan-masalah-sampah-kepala-dlhd-akan-undang-kades-dan-lurah

Gara-gara Ini, Pantai Kuta Dipenuhi Sampah

Gara-gara Ini, Pantai Kuta Dipenuhi Sampah
Tanggal: 2 Januari 2017 Jam:1:32 pm • Badung, Bali, Berita, Headline, Lingkungan, Pariwisata

MANGUPURA, BALIPOST.com – Keindahan pantai yang terkenal hingga ke mancanegara ini kini berbalut sampah plastik, selain sampah organik dan sisa-sisa perayaan malam Tahun Baru. Hal ini disebabkan angin siklon barat yang berhembus di penghujung tahun membuat hamparan pasir putih sepanjang Pantai Kuta tak sedap dipandang mata.

Sampah Hasil Penyisiran Sampah di Kuta

(sumber : http://www.mongabay.co.id/2014/02/11/aksi-bersih-pantai-kuta-kerja-keras-tanpa-kesadaran-wisatawan/)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung, Putu Eka Merthawan, saat dikonfirmasi membenarkan tumpukan sampah yang terdampar di Kuta sebagian merupakan sampah plastik. “Sampah ini dibawa oleh angin hingga menumpuk di sepanjang Pantai Kuta,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya mengerahkan sedikitnya 700 petugas yang meliputi petugas sapu, sopir, dan lainnya untuk lembur menangani sampah. Mereka juga bertugas membersihkan sampah sisa-sisa perayaan akhir tahun. “Hampir 700 petugas kami full lembur menjelang tahun dan pasca tahun baru ini untuk menangani sampah,” ungkapnya.

Dijelaskan, penanganan sampah angin barat dalam bulan ini sebanyak 1.510 ton. Sementara untuk hari Jumat, 30 Desember 2016 sebanyak 46 ton. Adapun perinciannya sebagai berikut. Yakni di Zona I (Kuta Utara) Pantai Canggu sampai dengan Loloan Yeh Poh sebanyak 6 ton. Di Zona II (Kuta Utara) di Loloan Yeh Poh sampai dengan BMG sebanyak 14 ton. Di Zona III (Kuta) BMG sampai dengan Camplung sebanyak 8 ton. Zona IV (Kuta) Camplung sampai dengan Setra Kuta sebanyak 10 ton. Zona V (Kuta Selatan) Pantai Jerman sampai dengan Pantai Jimbaran sebanyak 8 ton.

“Keseluruhan penanganan sampah angin barat dari tanggal 25 November sampai dengan 30 Desember 2016 sebanyak 1.534 ton,” ucapnya.

Diterangkan, volume sampah di areal pantai di Badung juga meningkat pada tahun baru ini. Total sampah sisa tahun baru sekitar 50 ton sampah. Sampah-sampah tersebut terdiri dari sampah plastik, selongsong kembang api, sampah daun dan sampah organik lainnya. ”Sampah banyak sekali hampir 50 ton dan ini banyak banget. Wilayah Kuta paling banyak volume sampah nya,” keluhnya.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mengakui, mengenai masalah sampah kiriman yang melanda pantai Badung sampai saat ini masih terjadi. Namun Pemerintah Badung sejatinya telah melakukan gerakan untuk menganani sampah-sampah tersebut. Bahkan, tidak tanggung-tanggung akan membeli sarana prasarana untuk menangani sampah kiriman tersebut.

“Kami sudah lakukan gerakan, kajian dan membeli sarana prasarana. Sehingga nanti ke depan ada sampah cepat selesai tertangani,” ungkapnya.

Giri Prasta mengatakan, sampah kiriman ini sejatinya bencana alam. Karena sampah-sampah tersebut datang dari semua lini dan pada akhirnya bermuara di seluruh pantai yang ada di Badung. tidak hanya itu, di pantai lainnya di luar Badung juga kerap dilanda sampah kiriman. (Parwata/balipost)

sumber : http://balipost.com/read/badung/2017/01/02/70181/gara-gara-ini-pantai-kuta-dipenuhi-sampah.html

Atasi Masalah Sampah, Pemda Ciamis Gandeng Komunitas Motor

Atasi Masalah Sampah, Pemda Gandeng Komunitas Motor

Sosialisasi Pengelolaan Sampah/NURHANDOKO/PR
Puluhan anggota komunitas sepeda motor Ciamis mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah yang digelar, Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Ciamis, Rabu 7 Desember 2016. Puluhan komunitas sepedamotor digandeng untuk aktif menangani persoalan sampah.

CIAMIS,(PR).- Dinas Cipta Karya Kebersihan dan tata Ruang (DCKKTR) Kabuaten Ciamis menggandeng puluhan komunitas klub sepeda motor, mengatasi persoalan sampah perkotaan. Selain bertanggungjawab atas kebersihan lingkungan tempat kumpul, mereka juga bakal dilibatkan penangan sampah di lokasi lain.

“Kami sengaja merangkul mereka untuk ikut terlibat langsung menangani sampah. Salah satu alasannya, sebenarnya mereka juga peduli terhadap kebersihan tempat kumpul. Hanya ke depannya memang perlu lebih diarahkan, sehingga nantinya muncul kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan lingkungan,” tutur Kepla Bidang Kebersihan dan pertamanan, DCKKTR Ciamis, Tonton Guntari, Rabu 7 Desember 2016.

Dia mengemukakan itu usai memberikan wawasan pengelolaan sampah bagi puluhan anggota yang berasal dari 30 komunitas sepeda motor Ciamis. Tonton mengatakan persoalan sampah, bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, akan tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Hasil ngobrol bersama, lanjutnya, ada kesepakatan bersama seluruh komunitas untuk bertanggungjawab terhadap kebersihan tempat kumpul. Selain membersihkan sampah yang berserakan, mereka juga menyatakan kesiapannya terlibat dalam upaya kebersihan lingkungan.

Selain memberikan bekal pengetahuan serta pemahaman penanganan sampah yang dilakukan di kantor DCKKTR, puluhan anggota komunitas sepedamotor tersebut juga dibawa langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Handapherang, Kecamatan Cijeungjing. Hal tersebut sekaligus mengenalkan secara langsung penanganan sampah di tempat tersebut.

Sementara itu, Agus Dudung dan Iman, yang tergabung dalam Klub Jupiter Ciamis, menyambut baik gagasan DCKKTR. Selama ini, dia bersama anggota lainnya mengaku juga selalu membersihkan sampah di lingkungan tempat kumpul.

“Kami mendukung gagasan tersebut. Selama ini kami juga rutin membersihkan lokasi sebelum meninggalkan tempat kumpul,” tutur Agus.***

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/12/07/atasi-masalah-sampah-pemda-gandeng-komunitas-motor-387185

Belajar Mengelola Sampah dari Negara Maju

Cara terbaik mengurangi sampah adalah dengan tidak menghasilkannya. Hal ini berlaku bagi semua negara tak terkecuali di negara maju.

Masalah sampah muncul seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Data dari Lembaga Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) menyebutkan, penduduk Amerika menghasilkan 250 juta ton sampah padat per tahun pada 2010. Bandingkan dengan jumlah sampah padat yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia pada periode yang sama yang mencapai 56,3 juta ton pertahun.

Menurut data statistik Eurostat, setiap tahun, masyarakat Uni Eropa membuang 3 miliar ton sampah – 90 juta ton di antaranya adalah sampah beracun. Dari angka tersebut berarti, setiap pria, wanita dan anak-anak di Eropa membuang 6 ton sampah padat setiap tahun.

Namun menemukan cara mengelola dan membuang sampah – tanpa merugikan lingkungan – terus menjadi masalah besar di semua negara hingga saat ini. Di Eropa, kebanyakan dari sampah tersebut dibakar di tempat pembakaran sampah (incinerators) atau dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (67%). Namun kedua metode ini sama-sama merusak lingkungan.

Kebutuhan lahan untuk lokasi pembuangan sampah terus meningkat. Sampah juga mencemari udara, air dan tanah, melepas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) ke udara, serta bahan kimia dan pestisida ke tanah. Hal ini membahayakan tidak hanya bagi kesehatan manusia, namun juga bagi hewan dan tumbuhan.

Amerika Serikat maupun Uni Eropa, berpegang pada tiga prinsip berikut untuk menangani sampah:

1. Mencegah produksi sampah

Strategi ini adalah yang terpenting dalam pola pengelolaan sampah yang sangat terkait dengan upaya perusahaan untuk memimimalisir kemasan dan upaya memengaruhi konsumen untuk membeli produk-produk yang ramah lingkungan.

Jika upaya ini berhasil – dengan bantuan media dan lembaga terkait – maka dunia akan bisa mengurangi sampah secara signifikan dan mendorong penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan dalam setiap produk yang dikonsumsi oleh masyarakat.

2. Mendaur ulang dan menggunakan kembali suatu produk

Jika kita masih sulit untuk mencegah terciptanya sampah, langkah daur ulang adalah langkah alternatif yang bisa dilakukan untuk menguranginya.

Baik AS maupun negara Uni Eropa, mereka sudah menentukan jenis sampah apa saja yang menjadi prioritas untuk diolah dan didaur ulang, meliputi sampah kemasan, limbah kendaraan, beterai, peralatan listrik dan sampah elektronik.

Uni Eropa juga meminta negara-negara anggotanya untuk membuat peraturan tentang pengumpulan sampah, daur ulang, penggunaan kembali dan pembuangan sampah-sampah di atas. Hasilnya tingkat daur ulang sampah kemasan di beberapa negara anggota Uni Eropa mencapai lebih dari 50%.

Di AS, keberhasilan upaya daur ulang sejumlah produk juga sangat menggembirakan. Jumlah baterai (aki) kendaraan yang berhasil didaur ulang mencapai 96%. Jumlah surat kabar dan kertas yang berhasil didaur ulang ada di tempat kedua sebesar 71% dan sekitar duapertiga (67%) kaleng baja berhasil didaur ulang. Tantangan terbesar ada pada upaya mendaur ulang produk-produk elektronik konsumen dan wadah gelas. AS baru berhasil mendaur ulang seperempat (25%) dan sepertiganya.

3. Memerbaiki cara pengawasan dan pembuangan sampah akhir

Jika sampah tidak berhasil didaur ulang atau digunakan kembali sampah harus dibakar dengan aman. Lokasi pembuangan sampah adalah solusi terakhir. Kedua metode ini memerlukan pengawasan yang ketat karena berpotensi merusak lingkungan.

Uni Eropa baru-baru ini menyetujui peraturan pengelolaan TPA yang sangat ketat dengan melarang pembuangan ban bekas dan metetapkan target pengurangan sampah yang bisa terurai secara biologis.

Batas polusi di tempat pembakaran sampah juga telah ditetapkan. Mereka juga berupaya mengurangi polusi dioksin dan gas asam seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan hidrogen chlorida (HCL), yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Catatan penting, berdasarkan data EPA, upaya daur ulang dan pembuatan kompos di AS berhasil mencegah pembuangan 85,1 juta ton sampah pada 2010, naik dari hanya 15 juta ton pada 1980.

Prestasi ini setara dengan mencegah pelepasan sekitar 186 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida (CO2) ke udara pada 2010 atau setara dengan memensiunkan 36 juta mobil dari jalan raya dalam satu tahun!

Upaya pengelolaan sampah yang baik tidak hanya memecahkan masalah pencemaran lingkungan tapi juga bisa menjadi solusi memerlambat efek pemanasan global. Sampai di mana kita?

Redaksi Hijauku.com

sumber : http://www.hijauku.com/2012/05/08/belajar-mengelola-sampah-dari-negara-maju/