Kartini Lingkungan, Selamat Hari Kartini 2018

energihayati-1492602760238-300x300

Kartini Lingkungan

Sosok Kartini Lingkungan yang tak gentar membersihkan sampah dan vandalisme di gunung.

Keprihatinan Luluk Kartikawati dengan sampah yang berserakan dan coretan di dinding maupun bebatuan di gunung, menggerakkan niat perempuan ini untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.

Bahkan, Luluk membuat gerakan CAV OT Mountain (Clean Art Vandalism On the Mountain), yang bergerak untuk membersihkan sampah-sampah di gunung hingga menghapus coretan-coretan rupa vandalisme yang terpampang di dinding dan bebatuan.

Meski kegiatannya mulia, namun nyatanya tidak semua orang mendukungnya. Ada yang malah menghina, bahkan ada yang protes tulisannya dihapus. Tidak jarang juga yang mengkritik kegiatan Luluk ini karena dianggap tidak menguntungkan.
Namun, Luluk tidak patah arang. Ia pun bertekad akan meneruskan gerakannya ini dan berharap agar semangat kecil ini dapat menular ke orang maupun komunitas lain.

Sumber: https://www.instagram.com/energihayati/

sumber : http://cavotmountain.com/2017/04/kartini-lingkungan/

Gardens: so you think coffee grounds are good for plants

Gardens: so you think coffee grounds are good for plants

A real-life test and all the science explodes this popular myth

Bean and gone and done it: the caffeine in coffee plants reduces the growth in other plants.
 Bean and gone and done it: the caffeine in coffee plants reduces the growth in other plants. Photograph: Juan Carlos Ulate/Reuters

It’s one of the most common gardening tips going: apply spent coffee grounds around your garden for amazing results. A quick internet search for “coffee grounds + plants” will draw up close to four million hits, with consistent claims they can add essential minerals to the soil, boost populations of friendly soil bacteria and even reduce the pH of growing media for acid-loving plants like rhododendrons. In fact, on a trip to an achingly eco organic coffee shop in San Francisco last year I saw big barrels of used coffee grounds with scoops and brown bags, free to customers to collect, under a sign detailing their many horticultural virtues. What a great idea!

Always keen to try out a quirky horticultural tip, and being a bit of a caffeine fiend, I decided to put the theory to the test this summer on two identical vegetable beds containing a mix of tomatoes, lettuce, herbs and flowers. Now, this was hardly a rigorous scientific trial, just a rough-and-ready experiment to satisfy passing curiosity. I’d just dump my daily coffee grounds on the surface as a mulch once they had cooled (the way books and blogs suggest), creating a beautiful dark inch-thick layer of coffee compost by the end of the summer.

So I had a look at the scientific literature, and frankly I kicked myself. Coffee grounds are of course a rich source of caffeine – in fact they can be richer than coffee itself, depending on brewing technique. One of the key functions of caffeine in the plants that produce it is allelopathy – the ability to reduce competition from surrounding species by suppressing their growth. Caffeine is packed into coffee seeds for the very function of suppressing the germination of other seeds.

There is a stack of studies to suggest it also stalls root growth in young plants, preventing their uptake of water and nutrients. Yet others have shown it has antibacterial effects (so much for boosting soil bacteria). And guess what? It isn’t even always very acidic. OK, its effects have varied widely depending on plant species, but it’s never shown colossal benefits that could outweigh the risks. I love a quirky piece of hort advice, and some are repeated so often you assume they are true, but often they call them old wives’ tales for a reason.

Email James at james.wong@observer.co.uk or follow him on Twitter @Botanygeek

 

sumber/source : https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2016/oct/23/coffee-grounds-are-not-good-for-plants-its-a-myth

Ini Harapan Pasukan Oranye di Hari Peduli Sampah Nasional Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ini Harapan Pasukan Oranye di Hari Peduli Sampah Nasional”, (KOMPAS, 25/02/18)

Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bahu membahu membersihkan sampah dan mengangkutnya ke truk di Jalan Kebon Sirih, Minggu (25/2/2018).

Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bahu membahu membersihkan sampah dan mengangkutnya ke truk di Jalan Kebon Sirih, Minggu (25/2/2018).

KOMPAS.com/IWAN SUPRIYATNA) JAKARTA, KOMPAS.com – Hari Peduli Sampah Nasional diperingati setiap 21 Februari. Meski telah empat hari berlalu, namun para Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau biasa dikenal dengan sebutan Pasukan Oranye masih menyimpan harapan.

“Harapannya warga enggak buang sampah sembarangan,” kata Aldo, seorang petugas PPSU Kebon Sirih saat ditemui Kompas.com, Minggu (25/2/2018).

Aldo berharap, masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya agar tidak menimbulkan bencana seperti banjir yang diakibatkan dari tersumbatnya aliran selokan.

“Lebih peduli lagi lah terhadap lingkungan, apalagi kawasan Kebon Sirih pusat kuliner, banyak sekali sampahnya,” ucap Aldo sambil mengangkut sampah ke atas truk pengangkut.

Rinaldi, seorang petugas PPSU Kebon Sirih mengatakan, masih banyak sampah berserakan di kawasan tersebut. Namun demikian, dirinya tetap menjalankan tugasnya bersama rekan-rekan PPSU lainnya untuk membersihkan sampah. “Sudah tugas kami membersihkan sampah, tapi bukan berarti masyarakat boleh buang sampah seenaknya,” ucap Rinaldi.

Menurut Rinaldi, setiap harinya truk sampah berukuran besar pasti mengangkut sampah dari kawasan Kebon Sirih. Tak pernah truk sampah beroperasi dalam keadaan kosong. “Banyak banget sampahnya, enggak kehitung, pokoknya truk gede ini penuh buat angkut sampah,” tutur Rinaldi.

Abidin, pedagang makanan di Jalan Wahid Hasyim kawasan Kebon Sirih menuturkan, selain petugas PPSU yang setiap harinya membersihkan sampah, para pedagang juga tak jarang berswadaya membersihkan sampah sisa-sisa jualan. “Habis jualan biasanya kami bersihkan, enggak enak juga kalau tempat jualan banyak sampahnnya,” kata Abidin.

Sumber :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ini Harapan Pasukan Oranye di Hari Peduli Sampah Nasional”, https://megapolitan.kompas.com/read/2018/02/25/10504741/ini-harapan-pasukan-oranye-di-hari-peduli-sampah-nasional.
Penulis : Iwan Supriyatna
Editor : Bayu Galih

TPA Sente kelebihan kapasitas, Klungkung membuat TPA baru

TPA Sente kelebihan kapasitas, Klungkung membuat TPA baru

KAMIS, 07 SEP 2017 12:45 | EDITOR : ALI MUSTOFA

RadarBali.com – Pemerintah Kabupaten Klungkung kian gencar melakukan perbaikan terutama dalam mengatasi permasalahan sampah pasca overload-nya TPA Sente di Kecamatan Dawan.

Selain meneken MoU dengan Pemprov Bali terkait pembuangan sampah ke TPA Regional Bangli, Pemkab Klungkung berencana membangun TPA baru di Dawan.

Menurut Kadis Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung AA Kirana karena belum ada TPA pengganti, warga terpaksa membuang sampah di TPA Sente.

“Luasan TPA Sente ini kurang dari satu hektare namun produksi sampah di perkotaan yang awalnya 10 truk per hari terus meningkat hingga saat ini menjadi 15 truk per hari,” ujar AA Kirana.

Selain sampah perkotaan, kata dia, warga di pedesaan ikut-ikutan membuang sampah di TPA Sente dengan menyewa truk secara mandiri.

Sehingga total sampah yang dibuang ke TPA Sente bisa mencapai 35 truk per hari, bahkan 40 truk saat ada upacara keagamaan.

“Sebelumnya, TPA ini diprediksi masih bisa menampung sampah hingga dua sampai tiga tahun ke depan. Tapi karena produksi sampah yang terus meningkat sehingga tahun ini saja sudah penuh,” katanya.

Untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut, diungkapkannya bahwa Pemkab Klungkung telah melakukan pembahasan MoU dengan Pemprov Bali terkait pembuangan sampah ke TPA Regional Bangli.

Pemkab Klungkung juga telah mengajukan permohonan pembangunan TPA baru di Kecamatan Dawan, serta rehabilitasi dua TPA di Kecamatan Nusa Penida.

Adapun permohonan tersebut oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia telah disetujui dan akan dimulai pengerjaannya di tahun 2018 mendatang.

“Untuk TPA baru ini akan dibangun di Dusun Gelogor Kecamatan Dawan, Klungkung dengan luas lahan sekitar 1,5 hektare lebih. Pengerjaannya akan dilakukan pada tahun 2018 dan diperkirakan sudah bisa digunakan pada tahun 2019 mendatang,” ungkapnya.

(rb/ayu/mus/mus/JPR)

sumber : https://www.jawapos.com/radarbali/read/2017/09/07/12167/tpa-sente-overload-klungkung-bikin-tpa-baru

Bicarakan Masalah Sampah, Kepala DLHD Akan Undang Kades dan Lurah

Jumat, 3 Februari 2017 20:06
Bicarakan Masalah Sampah, Kepala DLHD Akan Undang Kades dan Lurah
PB /Dede Suhendar
Ilustrasi – Kondisi jalan yang sampahnya berserakan di gang yang menghubungkan Jalan Ali Uyub dan Gatot Subroto, Kelurahan Tanjungpendam, Kecamatan Tanjungpandan, tepatnya di sebelah SMA Negeri 1 Tanjungpandan, Kamis (2/2/2017). Pos Belitung/Dede Suhendar

Laporan Wartawan PB, Dede Suhendar

POSBELITUNG.COM, BELITUNG — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD)Kabupaten Belitung, Ubaidillah akan mengundang kepala desa dan lurah se Kecamatan Tanjungpandan pekan depan.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk membicarakan masalah persampahan dan mencari solusi yang tepat.

Dari hasil pertemuan tersebut, kata Ubai, akan menghasilkan peta titik kebutuhan TPS hingga wilayah rawan dijadikan tempat sampah liar.

“Rencananya kami jadwalkan minggu depan, kalau tidak Rabu, Kamis. Nanti kades dan lurah akan menyampaikan saran dan kebutuhan apa saja untuk mengatasi sampah ini, apakah TPS atau tong sampah,” ujarnya kepada posbelitung.com, Jumat (3/2/2017).

Berdasarkan Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) Pemkab Belitung yang baru, masalah kebersihan menjadi wewenang DLHD.

Karena Dinas Kebersihan Pasar dan Pertamanan sudah dibubarkan.

Oleh karena itu, Ubai menilai perlunya pemetaan untuk memantau sejumlah titik yang dianggap rawan dengan sampah.

Sumber : http://belitung.tribunnews.com/2017/02/03/bicarakan-masalah-sampah-kepala-dlhd-akan-undang-kades-dan-lurah