Gara-gara Ini, Pantai Kuta Dipenuhi Sampah

Gara-gara Ini, Pantai Kuta Dipenuhi Sampah
Tanggal: 2 Januari 2017 Jam:1:32 pm • Badung, Bali, Berita, Headline, Lingkungan, Pariwisata

MANGUPURA, BALIPOST.com – Keindahan pantai yang terkenal hingga ke mancanegara ini kini berbalut sampah plastik, selain sampah organik dan sisa-sisa perayaan malam Tahun Baru. Hal ini disebabkan angin siklon barat yang berhembus di penghujung tahun membuat hamparan pasir putih sepanjang Pantai Kuta tak sedap dipandang mata.

Sampah Hasil Penyisiran Sampah di Kuta

(sumber : http://www.mongabay.co.id/2014/02/11/aksi-bersih-pantai-kuta-kerja-keras-tanpa-kesadaran-wisatawan/)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung, Putu Eka Merthawan, saat dikonfirmasi membenarkan tumpukan sampah yang terdampar di Kuta sebagian merupakan sampah plastik. “Sampah ini dibawa oleh angin hingga menumpuk di sepanjang Pantai Kuta,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya mengerahkan sedikitnya 700 petugas yang meliputi petugas sapu, sopir, dan lainnya untuk lembur menangani sampah. Mereka juga bertugas membersihkan sampah sisa-sisa perayaan akhir tahun. “Hampir 700 petugas kami full lembur menjelang tahun dan pasca tahun baru ini untuk menangani sampah,” ungkapnya.

Dijelaskan, penanganan sampah angin barat dalam bulan ini sebanyak 1.510 ton. Sementara untuk hari Jumat, 30 Desember 2016 sebanyak 46 ton. Adapun perinciannya sebagai berikut. Yakni di Zona I (Kuta Utara) Pantai Canggu sampai dengan Loloan Yeh Poh sebanyak 6 ton. Di Zona II (Kuta Utara) di Loloan Yeh Poh sampai dengan BMG sebanyak 14 ton. Di Zona III (Kuta) BMG sampai dengan Camplung sebanyak 8 ton. Zona IV (Kuta) Camplung sampai dengan Setra Kuta sebanyak 10 ton. Zona V (Kuta Selatan) Pantai Jerman sampai dengan Pantai Jimbaran sebanyak 8 ton.

“Keseluruhan penanganan sampah angin barat dari tanggal 25 November sampai dengan 30 Desember 2016 sebanyak 1.534 ton,” ucapnya.

Diterangkan, volume sampah di areal pantai di Badung juga meningkat pada tahun baru ini. Total sampah sisa tahun baru sekitar 50 ton sampah. Sampah-sampah tersebut terdiri dari sampah plastik, selongsong kembang api, sampah daun dan sampah organik lainnya. ”Sampah banyak sekali hampir 50 ton dan ini banyak banget. Wilayah Kuta paling banyak volume sampah nya,” keluhnya.

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mengakui, mengenai masalah sampah kiriman yang melanda pantai Badung sampai saat ini masih terjadi. Namun Pemerintah Badung sejatinya telah melakukan gerakan untuk menganani sampah-sampah tersebut. Bahkan, tidak tanggung-tanggung akan membeli sarana prasarana untuk menangani sampah kiriman tersebut.

“Kami sudah lakukan gerakan, kajian dan membeli sarana prasarana. Sehingga nanti ke depan ada sampah cepat selesai tertangani,” ungkapnya.

Giri Prasta mengatakan, sampah kiriman ini sejatinya bencana alam. Karena sampah-sampah tersebut datang dari semua lini dan pada akhirnya bermuara di seluruh pantai yang ada di Badung. tidak hanya itu, di pantai lainnya di luar Badung juga kerap dilanda sampah kiriman. (Parwata/balipost)

sumber : http://balipost.com/read/badung/2017/01/02/70181/gara-gara-ini-pantai-kuta-dipenuhi-sampah.html

Iklan

Presentasi : CSR : Terobosan dalam Mendorong Kebermanfaatan Infrastruktur Sanitasi Berbasis Masyarakat

pk1

pk2pk3pk4pk5
   pk6pk7 pk8 pk9 pk10 pk11 pk12 pk13 pk14 pk15

link file asli : https://drive.google.com/file/d/0BwZW9V59tlMxbDlFbUc4dW80UTQ/view?usp=sharing

Kumpulan Berita Inbesa #2 – 16 Maret 2015

  1. Bantul Kerahkan 18 Armada Pengangkutan Sampah

Sumber : http://www.antarayogya.com/berita/329459/bantul-kerahkan-18-armada-pengangkut-sampah

Senin, 16 Februari 2015 07:03 WIB

Pengangkutan Sampah di Kabupaten Bantul

ilustrasi gerobak sampah (antarafptp.com)

Bantul (Antara Jogja) – Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengerahkan 18 armada sebagai sarana pengangkutan sampah dari seluruh tempat pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah Piyungan.
“Sarana pengangkutan sampah yang kami miliki saat ini ada 18 armada yang terdiri dari enam armada truk `arm roll`, kemudian sisanya `dump truk`,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan Persampahan, Pertamanan, dan Pemakaman (KP3) Bantul Surono di Bantul, Senin.


Ia mengatakan dari seluruh 17 kecamatan se-Bantul, ada satu kecamatan, yakni Dlingo yang belum dijangkau armada pengangkutan sampah, sedangkan 16 kecamatan lainnya sudah dijangkau meskipun volume sampah berbeda.


Dalam sehari, rata-rata volume sampah yang terangkut 60 ton atau sekitar 14 persen dari total volume sampah sekitar 450 ton yang masuk ke TPA Piyungan.

Solusi : Peningkatan pelayanan perlu terus dilakukan pelayanan 14% termasuk dalam kategori rendah. Pengadaan truk bias menggunakan skema pendanaan CSR seperti yang dilakukan Kota Bandung.

  1. Retribusi Sampah Naik, Kepala DKPP Jamin Sampah Tidak Menumpuk

Sumber : http://batam.tribunnews.com/2015/02/15/retribusi-sampah-naik-kepala-dkpp-jamin-sampah-tidak-menumpuk

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BINTAN – Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Tanjungpinang menaikkan pungutan retribusi sampah mulai Januari 2015. Kenaikannya sebesar 100 persen dari nilai sebelumnya. Yaitu dari Rp 25.000 perbulan, menjadi Rp 50.000 perbulan. Kenaikan retribusi ini sontak membuat kaget sejumlah warga yang menggunakan jasa angkut sampah tersebut.

Oleh karena itu, dia meminta kepada masyarakat untuk mengerti dan mentaati Peraturan Daerah yang ada. Karena Perda juga disahkan oleh wakil rakyat untuk kepentingan pembangunan Kota Tanjungpinang lebih baik. “Dalam Ranperda Persampahan yang diusulkan ke DPRD beberapa waktu lalu tidak ada perubahan terkait retribusi,” katanya.

Solusi : Pemberlakuan tarif retribusi sebaiknya dilakukan sosialisasi terlebih dahulu untuk mengurangi respon negatif warga. Untuk meningkatkan pemahaman warga sebaiknya anggaran operasional pengangkutan sampah dibuka kepada warga, dibelanjakan ke mana saja uang retribusi tersebut.

  1. STOP Sampah di Berbagai Negara

Sumber : http://www.gadis.co.id/gaul/aksi/stop.sampah.di.berbagai.negara/001/006/58

… . Negara-negara lain pun berpikir keras cari cara mengurangi jumlah sampah. Mungkin ide mereka bisa kita tiru:
Hongkong
Sebagai salah satu pusat shopping dunia, sudah pasti Hongkong menghasilkan sampah plastik yang banyak banget. Makanya, sejak tahun 2006, pemerintah Hongkong memberlakukan No Plastic Bag Day setiap awal bulan ke seluruh toko agar mereka bisa mengurangi kantong plastik belanja.
Singapura
Membuang sampah sembarangan adalah kejahatan serius di kota ini. Kalau ketahuan sama aparat, si pelaku akan didenda sebanyak $ 1.000 dan harus menyapu jalanan seharian!
Inggris
Beberapa kota di Negara Inggris mengajak organisasi masyakarat untuk membantu pemerintah mengumpulkan sampah. Organisasi yang paling banyak mengumpulkan sampah untuk didaur ulang, akan mendapatkan rewards yang lumayan, lho, yaitu antara 75 – 1000 Euro. Kalau dihitung ke rupiah, nilainya bisa mencapai belasan juta!
Amerika Serikat

Hampir setiap kota di Amerika Serikat punya household waste recycling centre (HWRC), yaitu drop zone bagi sampah rumah tangga yang bisa didaur ulang. Nah, untuk sampah yang nggak bisa didaur ulang, tinggal datang saja ke Swap shop, di mana kita bisa barter barang yang nggak terpakai dengan barang yang kita perlukan.

Hikmah : Di atas adalah beberapa solusi aplikatif uang bias diterapkan di Indonesia.

  1. BNI Hibahkan Becak Motor Sampah (Kota Padang Panjang)

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/csr-koran/15/02/18/njyjkh1-bni-hibahkan-becak-motor-sampah

Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatra Barat, menerima hibah 10 kendaraan pengangkut sampah berupa becak motor dari Bank Negara Indonesia (BNI). Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dananya bersumber dari CSR perseroan.Pimpinan BNI Kantor Cabang Bukittinggi M Rozali mengatakan, bantuan itu merupakan wujud kepedulian BNI terhadap lingkungan dan kebersihan kota. Sebanyak 10 unit becak motor itu diharapkan dapat dimanfaatkan guna pengangkutan sampah dalam menjaga kebersihan kota.
“Bantuan kepada Pemkot Padang panjang ini sudah menjadi program BNI setiap tahunnya. Sebelumnya, kami membantu 10 unit becak motor kepada Pemkot Padang Panjang pada Desember 2014,” katanya, di Padang Panjang, pekan lalu. …

Hikmah : Pemetaan potensi pendanaan CSR perlu dibuat untuk mempercepat dan menambah dukungan penanganan sampah melalui dana CSR.

  1. Sampah Menjadi Sorotan dalam Rapat Parnipurna DPRD Klaten

Sumber : http://www.kabarlawu.com/4779/sampah-menjadi-sorotan-dalam-rapat-parnipurna-dprd-klaten.html

Lembaga DPRD meminta PemKab segera menyelesaikan permasalahan tersebut agar tidak berlarut-larut dan tak mengakibatkan polemik di masyarakat. “Kami ingin PemKab segera menindaklanjuti permasalahan sampah  akibat penutupan TPA [tempat pembuangan akhir] di Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Utara. Lalu penolakan warga di Desa Joho, Kecamatan Prambanan setelah pembuangan sampah di alihkan ke TPA itu,” kata juru bicara Fraksi Parta Keadilaan sejaterah atau yang disingkat (PKS) lembaga DPRD Klaten, Budi Raharjo saat membacakan isi tentang Fraksi dalam Rapat Paripurna.

“Sudah ada dua atau tiga lokasi untuk rencana pembangunan TPA baru di Klaten. Tim PemKab sedang mengkaji lokasi mana yang tepat agar tidak menggangu masyarakat. yang jelas kami merencanakan tahun ini ada lokasi dulu yang di bangun untuk dijadikan TPA,” katanya saat di temui wartawan seusain Rapat Paripurna.

Dia mengatakan pengadaan TPA selama ini terkendala ketentuan luas minimal lahan TPA yaitu 5  hektare. Tetapi, saat-saat ini ada kebijakan baru dari pemerintah pusat bahwa TPA akan dibangun pada lahan yang luasnya kurang dari 5 hektare. Seperti yang diberitakan sebelumnya, PemKab sudah menutut TPA di Desa Jemboran karena sudah overload selain ada penutupan jalan ke TPA oleh warga sekitar. Pembuangan sampah pun sempat dipindah untuk sementara ke TPA di Desa Joho, Kecamatan Prambanan dengan minta persetujuan warga sekitar. Namun, akhirnya warga di wilayah tersebut menolak.

Solusi : Penyusunan master plan / PTMP perlu dilakukan dan diimplementasikan, agar pemerintah daerah tidak terkesan terburu-buru dalam penyediaan TPA. Dengan mengacu ke Masterplan diharapkan penanganan sampah dapat lebih terencana dan berjalan lebih baik. Sosialisasi untuk lokasi TPA baru juga dilakukan untuk mendukung ketersediaan lahan TPA.

  1. DKP Jajaki Pengolahan Sampah Menjadi Batu Bata

Sumber : http://fajarbali.com/index.php/berita/gianyar/2785-dkp-jajaki-pengolahan-sampah-menjadi batu-bata.html

GIANYAR-Fajar Bali | Berbagai upaya dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Gianyar dalam menanggulangi masalah sampah. Selain telah mendaur ulang limbah atau sampah menjadi pupuk dan membentuk Bank Sampah, kini mulai menjajaki pengolahan sampah menjadi briket hingga batu bata. Ide atau terobosan itu tercetus saat Kepala DKP Gianyar, I   Wayan Kujus Pawitra, Kamis (5/3) menerima 3 peneliti asal Bandung yang memberikan penawaran kepada Pemkab Gianyar berupa pengelolaan sampah tanpa sisa dan mengolahnya menjadi briket hingga batu bata. Ketiga peneliti yang diterima di Kantor DKP Gianyar itu, adalah Budi Listyawan, Nana Priatna dan Dewi Nurhidayati.

Budi Listyawan menyampaikan bahwa pihaknya mampu mengolah sampah-sampah organik maupun bukan organik menjadi briket hingga batu bata untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Apalagi, Gianyar memiliki TPA Temesi yang mendapat kiriman sampah tiap hari, perlu tambahan bantuan untuk melakukan daur ulang sampah.

Namun demikian, pihaknya perlu melakukan survei dan kajian lebih lanjut mengenai produksi sampah dalam sehari sehingga diketahui jumlah briket dan batu bata yang bisa dihasilkan. “Ini baru awal penawaran dan tentu ada tahap uji coba untuk mendapatkan data yang valid,” terangnya.

Solusi : Penelitian dan pengujian kelayakan daur ulang sampah menjadi batu bata perlu dilakukan untuk mendukung pengembangan alternatif metode daur ulang guna meningkatkan penanganan persampahan.

  1. DKP Ambil Alih Penanganan Sampah di Kusamba

Sumber : http://balipost.com/read/lingkungan/2015/01/11/28087/dkp-ambil-alih-penanganan-sampah-di-kusamba.html

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Penanganan sampah di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, kembali menjadi sorotan. Setiap hari tumpukan sampah terus meluber hingga ke jalan raya. Kondisi itu membuat Kusamba yang dikenal dengan aktivitas nelayan itu menjadi terkesan kumuh. Guna mengatasinya, DKP Klungkung mengambil alih penanganan sampah di Kusamba yang sebelumnya dilakukan secara swakelola oleh pihak desa. Keputusan itu diambil DKP Klungkung, setelah menerima instruksi dari Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta. Begitu juga saat dilakukan pengecekan ke lapangan.

Terakhir, Suwirta bersama DKP turun mengecek di lingkungan setempat pada, Sabtu (10/1/2015) lalu. Bupati Suwirta, mengatakan kesadaran warga setempat menjaga lingkungannya, dinilai masih rendah. Apalagi masyarakat membuang sampah dengan seenaknya di pinggir jalan. Padahal, sudah ada bak penampungan sementara yang dikelola Desa Kusamba.

Perbekel Kusamba, Ketut Winastra menuturkan, dalam upaya menangani sampah, pihaknya telah menyiapkan satu unit armada truk sampah untuk mengangkut sampah di wilayahnya. Namun, karena armada yang terbatas, untuk pengangkutan sebanyak dua kali perhari, jumlah sampah yang diproduksi diwilayahnya ini hanya mampu terangkut sebanyak 14 meter kubik. (bagiarta/balipost)

Solusi : Pemetaan daerah rawan masalah persampahan perlu dilakukan. Penanganan sampah di desa nelayan ini bisa menjadi studi wilayah studi penanganan sampah perdesaan. Penanganan sampah jika diperlukan dapat melayani perdesaan. Pengurangan sampah di desa tersebut perlu dilakukan.

-disusun dari berbagai sumber.

Kesadaran Wisatawan di Bali akan Sampah Masih Kurang

Kesadaran Wisatawan di Bali akan Sampah Masih Kurang

Senin, 15 Desember 2014, 16:55 WIB

 download
Sampah di Pantai Kuta, Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, KUTA — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali menilai kesadaran wisatawan dan penduduk Bali akan sampah di seputaran Kuta, Denpasar, Nusa Dua, dan sekitarnya masih kurang. Padahal, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Pulau Dewata selalu ramai, khususnya di pengujung tahun dan pada puncak musim liburan, seperti libur sekolah, Natal dan Tahun Baru.

Direktur Walhi Bali, Suriadi Darmoko mengatakan Pantai Kuta merupakan citra keindahan Bali yang selalu memikat wisatawan dari dulu hingga kini. Namun, kemolekan pantai itu ternodai dengan kehadiran sampah yang menghiasi bibir pantai, mulai dari sampah rumah tangga, sampah plastik, daun, kayu hingga ranting pepohonan.

“Bencana ekologis ini bukan hanya karena posisi Kuta yang berupa cekungan dan menjadi muara sampah bagi sungai-sungai dan pulau di sekitarnya. Saya menilai kurangnya kesadaran penduduk, termasuk wisatawan di Bali yang kurang disiplin soal buang sampah,” kata Moko kepada Republika, Senin (15/12).

Sampah bukan hanya menjadi persoalan utama di Bali, namun merata di seluruh wilayah di Indonesia. Banyak warga yang tinggil di pinggiran sungai suka membuang sampah ke sungai. Moko menilai kurang bijak jika tumpukan sampah yang berserakan di Pantai Kuta sepenuhnya karena ‘kiriman’ akibat pergerakan angin musim barat saat musim hujan.

Bayangkan, sungai-sungai atau tukad di Bali berjumlah sekitar 250 buah. Sungai terpanjang adalah Tukad Ayung yang mengalir di Kabupaten Badung sepanjang 62,5 kilometer (km). Sampah terbawa dari aliran sungai yang bermuara di Samudra Hindia yang kemudian terseret ombak ke Pantai Kuta.

Jika seluruh sungai-sungai itu menjadi tempat pembuangan sampah dan seluruhnya bermuara ke laut, bisa dibayangkan bagaimana kotornya pesisir-pesisir pantai di Bali.

Pantai Kuta menjadi favorit dibandingkan pantai lainnya di Bali, seperti Sanur, Jimbaran, Legian dan Dream Land. Larangan membuang sampah ke sungai sudah diatur dalam peraturan daerah di Bali. Oleh sebabnya, penanganan sampah dan sistem sanitasi di seluruh pulau ini harus diperbaiki.

“Respon cepat pemerintah daerah untuk sampah ini saya nilai sudah cukup. Namun, sampai kapan harus respon cepat melulu? Dalam jangka panjang, penegakan regulasi diperlukan untuk mengantisipasi pencemaran di bantaran-bantaran sungai,” kata Moko.

Kuta merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Bali. Kuta juga memiliki akomodasi pariwisata terbanyak dibanding lokasi wisata lainnya. Penataan sungai dan tempat pembuangan sampah di provinsi ini, kata Moko, perlu diperhatikan.

sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/12/15/ngma2r-kesadaran-wisatawan-di-bali-akan-sampah-masih-kurang